20 Februari 2013

PENDEKATAN INTEGRATIF

Dalam suatu proses pembelajaran tidak ada suatu pendekatan pembelajaran yang tepat untuk semua topik dan semua situasi, oleh karena itu guru dalam menentukan metode dan pendeka­tan pembelajaran apa yang harus dipilih harus senantiasa mem­perhatikan kondisi siswa/murid, sarana prasarana yang ada maupun materi pembelajaran apa yang akan dibahas.
Begitu juga di setiap sekolah tidak semua siswa/murid mempunyai latar belakang sosiai budaya, ekonomi, agama serta motivasi yang sama dalam setiap belajarnya, kondisi ini mengharuskan setiap guru memahami karakteristik dari siswa/murid atau kelas yang dihadapi jika ingin proses pembelajarannya bisa berhasil.
Kondisi yang berbeda-beda tentang latar belakang kemampu­an, ekonomi, sosial budaya, agama dan motivasi siswa/murid tersebut dalam belajar, bisa terlihat dari prestasi belajar yang dicapai, akhlak, budi pekerti dan perilaku siswa/murid yang ditunjukkan oleh siswa/murid dalam kehidupannya sehari-hari.
Pengertian Pendekatan Integratif
Pendekatan Integratif atau terpadu adalah rancangan kebijaksanaan pengajaran bahasa dengan menyajikan bahan-bahan pelajaran secara terpadu, yaitu dengan menyatukan, menghubungkan, atau mengaitkan bahan pelajaran sehingga tidak ada yang berdiri sendiri atau terpisah-pisah. Pendekatan terpadu terdiri dari dua macam :
a.  Integratif Internal
Yaitu keterkaitan yang terjadi antar bahan pelajaran itu sendiri, misalnya pada waktu pelajaran bahasa dengan fokus menulis kita bisa mengaitkan dengan membaca dan mendengarkan juga.
b. Integratif Eksternal
Yaitu keterkaitan antara bidang studi yang satu dengan bidang studi yang lain, misalnya bidang studi bahasa dengan sains dengan tema lingkungan maka kita bisa meminta siswa/murid membuat karangan atau puisi tentang banjir untuk pelajaran bahasanya untuk  pelajaran sainsnya kita bisa menghubungkan dengan reboisasi atau bisa juga pencemaran sungai.
Pendekatan pembelajaran terpadu adalah seperangkat asumsi yang berisikan wawasan dan aktifitas berfikir dalam merencanakan pembelajaran dengan memadukan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sebagai area isi kegiatan belajar mengajar. Fogarty dalam buku “How to Integrate the curricula” menyatakan bahwa pembelajaran terpadu merupakan :
  1. The vertical spiral represents the “spiraling” curricula built into most text materials as.
  2. The horizontal band reprsents the breadth and depth of learning in a given subject. 
  3. The circle represents the integration of skill, themes, concepts, and topicsaccros dislipines.
Pendekatan pembelajaran terpadu, menurut Aminuddin (1994), merupakan perencanaan dan proses pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topik, pemahaman, dan pengalaman belajar secara terpadu. Pembelajaran terpadu itu sebagai wawasan dan bentuk kegiatan berfikir ketika guru merencanakan kegiatan belajar mengajar dengan berlandas tumpu pada prinsip-prinsip:
a.  Humanisme
Manusia secara fitrah memiliki bekal yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan.
  1. Guru bukan satu-satunya sumber informasi.
  2. iswa/murid disikapi sebagai subjek belajar yang kreatif mampu menemukan pemahaman sendiri.
  3. Dalam proses belajar mengajar, guru lebih banyak bertindak sebagai model, teman pendamping, pemotivasi, penyedia bahan pembelajaran, aktor yang juga bertindak sebagai pembelajar.
b. Progresifisme
Prilaku manusia dilandasi motif dan minat tertentu. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan :
  1. Isi pembelajaran harus memiliki kegunaan bagi pebelajar secara aktual.
  2. Dalam kegiatan belajarnya siswa/murid harus menyadari manfaat pengusaan isi pembelajaran itu bagi kehidupannya.
  3. Isi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan, pengalaman dan pengetahuan pembelajar.
c. Rekonstruksionisme
Manusia selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan. Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pendidikan :
  1. Layanan pembelajaran selain bersifat klasikal juga bersifat individual.
  2. Pebelajar selain ada yang menguasai isi pembelajaran secara cepat juga ada yang menguasai isi secara lambat.
  3. Pebelajar perlu disikapi sebagai subjek yang unik, baik itu menyangkut  proses merasa, berfikir dan karakteristik individualnya sebagai hasil bentukan lingkungan keluarga, teman bermain, maupun lingkungan kehidupan sosial masyarakatnya.
Prinsip diatas dapat dihubungkan dengan wawasan progresifisme yang beranggapan bahwa penguasaan pengetahuan dan keterampilan tidak bersifat mekanisme tetapi memerlukan daya kreativitas. Pemerolehan pengetahuan secara pengetahuan dan keterampilan melalui kreativitas itu berkembang secara berkesinambungan. Pemahaman kosakata misalnya, akan membentuk keterampilan menyusun kalimat. Kemampuan memahami kosakata dan keterampilan dalam menyusun kalimat.
Progresifisme juga berisi wawasan bahwa dalam proses belajarnya siswa/murid seringkali dihadapkan pada masalah yang yang memerlukan cara pemecahan secara baku. Dalam pemecahan masalah tersebut siswa/murid perlu menyaring dan menyusun ulang pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya secara coba-coba atau secara hipotesis. Dalam hal demikian terjadi proses berfikir yang terkait dengan metakognisi.
Dalam wawasan konstruktivisme proses belajar disikapi sebagai kreativitas dalam menata serta menghubungkan pengalaman dan pengetahuan hingga membentuk suatu keutuhan. Dalam tindak kreatif tersebut siswa/murid pada dasarnya merupakan subjek pemberi makna.
Dalam proses pembelajaran guru hendaknya jangan menggurui melainkan secara adaptif berusaha memahami jalan pikiran siswa untuk kemudian menampilkan sejumlah kemungkinan. Bagi Fulwier, like students, teachers aslaerner are unique (Fulwier, 1992).
Dinyatakan demikian karena dalam mengendalikan, mengembangkan, sampai ke mengubah bentuk proses belajar setiap guru boleh menjadi sering dihadapkan pada masalah baru. Sebab itu guru juga perlu belajar, mengembangkan kreativitas sejalan dengan kekhasan siswa/murid. Peristiwa belajar, konteks pembelajaran, terdapat perkembangan maupun problema baru ditinjau dari konteks pembelajaran bahwa ketiga wawasan diatas juga dapat dihubungkan dengan wawasan whole language.
Proses pembelajaran yang dilakukan sah dinyatakan diwarnai whole language apabila:
  1. Hasil belajar ihwal bunyi, kosakata, struktur wicara, membaca, mengarang misalnya memiliki kesinambungan dan keterpaduan.
  2. Siswa/murid mempelajari bahasa dalam konteks pemakaian, baik secara lisan maupun tulisan.
  3. Siswa/murid mempelajari bahasa sesuai dengan keragaman fungsi dan pemakaian.
  4. Proses kreatif siswa/murid dalam berbahasa lebih mendapatkan perhatian dibandingkan pemahaman ihwal kebahasaannya,
  5. Guru mengadakan evaluasi proses dan hasil secara integratif dengan menggunakan berbagai data sebagai bahan penilaian.
Konsep Pembelajaran Terpadu
Kecenderungan konsep pembelajaran terpadu diyakini sebagai suatu pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak. Pendekatan ini berangkat dari suatu paham bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu konsep dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.
Adapun untuk dapat melaksanakan pembelajaran terpadu, beberapa hal yang diperlukan antara lain adalah:
  1. Kejelian guru dalam mengantisipasi pemanfaatan berbagai arahan pengait konseptual intra ataupun antar bidang studi.
  2. Penguasaan material dan metodologi terhadap bidang-bidang studi yang bisa dikaitkan.
  3. Wawasan kependidikan yang mampu membuat guru selalu waspada untuk memanpaatkan setiap keputusan dan tindakan untuk memberikan uraian nyata bagi pencapaian tujuan utuh pendidikan.
Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu memiliki beberapa macam karakteristik, diantaranya:
  1. Berpusat pada anak (studend centerd).
  2. Memberi pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
  5. Bersipat luwes.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  7. Holistik, artinya suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu di amati dan di kaji dari beberapa mata pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
  8. Bermakna, artinya pengkajian suatu penomena dari berbagai macam aspek memungkinkan terbentuknya semacam jalinan skemata yang dimiliki siswa.
  9. Otentik, artinya informasi dan pengetahuan yang diperoleh sipatnya menjadi otentik.
  10. Aktif, artinya siswa perlu terlibat langsung dalam proses pembelajaran mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi.
Wujud lain dari implementasi terpadu yang bertolak pada tema, yakni kegiatan pembelajaran yang dikenal dengan berbagai nama seperti pembelajaran proyek, pembelakaran unit, pembelajaran tematik dan sebagainya.
Adapun kelebihan-kelebihan pembelajaran terpadu diantaranya:
  1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
  2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan dan bertolak pada minat dan kebutuhan anak.
  3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
  4. Pembelajaran Terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berpikir anak.
  5. Menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui dalam lingkungan anak.
  6. Menumbuh kembangkan keterampilan sosial anak seperti kerja sama, toleransi, komunikasi dan respek terhadap gagasan orang lain.
Selain kelebihan pembelajaran terpadu juga memiliki keterbatasan terutama pada pelaksanaannya, terutama pada aspek evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga terhadap proses.

Ragam Model Pembelajaran Terpadu (Integratif)
Pembelajaran terpadu mempunyai beberapa model seperti yang diungkap oleh Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas model-model pembelajaran terpadu terdiri atas :
  1. Model pembelajaran terpadu antara dua mata pelajaran dalam struktur kurikulum yang berlaku. Misalnya antara mata pelajaran Matematika dan mata pelajaran Bahasa Indonesia, atau mata pelajaran Matematika dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, dsb.
  2. Model pembelajaran terpadu antara satu mata pelajaran tertentu dengan bahan ajar yang tidak berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, misalnya antara mata pelajaran Pendidikan Agama dengan bahan ajar pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup, antara mata pelajaran Biologi dengan pendidikan reproduksi sehat dan HIV/AIDS, antara mata pelajaran PPKn dengan bahan ajar pendidikan budi pekerti, mata pelajran Bahasa Indonesia dengan bahan ajar keimanan dan ketaqwaan, dsb.
  3. Model pembelajaran terpadu beberapa mata pelajaran, lebih dari dua mata pelajaran, misalnya mata pelajaran Matematika, Sains, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajinan Tangan dan Kesenian yang dimasukkan ke dalam satu proyek kegiatan pembelajaran (metode proyek).
Ditinjau dari cara memadukan konsep, pengetahuan, keterampilan, topik, dan unit-unit tema, dapat dihasilkan sejumlah model pembelajaran terpadu berbeda. Menurut Fogaty (1991) ada 10 model cara pemaduan pembelajaran yakni:
  1. Model Fragmented, yaitu pemaduannya hanya terbatas pada satu disiplin ilmu tertentu.
  2. Model Connected, yaitu pembelajaran dapat dipayungkan pada induk disiplin tertentu
  3. Model Nested, merupakan pemaduan berbagai bentuk penguasaan konsep dan keterampilan melalui sebuah kegiatan pembelajaran
  4. Model Sequenced merupakan model pemaduan topik-topik antar mata pelajaran yang berbeda secara paralel.
  5. Model Shared merupakan bentuk pemaduan yang disebabkan ketumpangtindihan konsep dalam dua mata pelajaran atau lebih.
  6. Model Webbed merupakan model pemaduan yang bertolak dari pendekatan tematis dalam mengintegrasikan bahan pelajaran.
  7. Threated, merupakan model pemaduan bentuk keterampilan, misalnya keterampilan mengadakan peramalan yang terkait dengan pengujian hipotesis (jawaban semertara), estimasi, antisipasi tahapan cerita dalam novel, maupun antisipasi bentuk pemacahan masalah berdasarkan analisis situasi melalui sebuah disiplin yang mencakup keseluruhan.
  8. Model Integrasi, model Integrasi kurikulum tersebut berfokus pada metacurriculum.
  9. Salah satu bentuk pengembangan model Immersed ini adalah pada penggunaan bentuk pembelajaran tersebut dilakukan dengan meminta siswa menceritakan pengalaman dalam proses membaca, menulis, kesulitan yang dihadapi dan cara memecahkan masalahnya maupun bentuk-bentuk transisi yang dialami saat belajar bahasa.
  10. Model Network merupakan model pemanduan pembelajaran yang mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk, pemecahan masalah maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun konteks yang berbeda-beda.
Penilaian Anda:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...