Tampilkan postingan dengan label Banda Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banda Aceh. Tampilkan semua postingan

17 Mei 2013

WISATA UNGGULAN DI ACEH

Aceh selain terkenal dengan keistimewaannya, ternyata di Aceh juga terkenal dengan banyak tempat tujuan wisata yang memiliki pesona yang luar biasa. Nah, berikut ini ada beberapa destinasi wisata unggulan di Aceh yang sangat patut untuk Anda kunjungi:
Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 
Mesjid Raya Baiturrahman merupakan mesjid terbesar dan termegah di Aceh. Mesjid ini mempunyai arsitektur yang indah dan terletak di pusat Kota Banda Aceh. Mesjid Raya Baiturrahman tidak sekedar berfungsi sebagai sebuah tempat religious semata, tetapi juga mempunyai makna yang mendalam bagi masyarakat Aceh berkaitan dengan sejarah kependudukan Belanda di daerah ini pada masa lalu. Ketika Belanda belum menduduki Aceh, mesjid ini dipergunakan oleh para pejuang Aceh sebagai markas pertahanan mereka. 

Sebelum wujudnya yang seperti sekarang, beberapa tulisan tentang sejarah Mesjid Raya Baiturrahman menyebutkan bahwa mesjid ini mulai dibangun pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Namun ada juga yang menyebutkan bahwa mesjid ini dibangun pertama kali pada Pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah pada tahun 1292 (621 H). Perluasan mesjid juga dilakukan kembali pada masa Pemerintahan Nakiatuddin Kinayat Syah pada tahun 1675-1678 M.

Banyak orang tua di Aceh menyebutkan bahwa bentuk bangunan Mesjid Raya Baiturrahman ketika itu berkonstruksi kayu, bertatapkan daun rumbia dan berlantaikan tanah liat yang rata dan mengeras yang menyerupai semen setelah kering. Para jamaah menggunakan tikar dari daun pandan untuk menutupi lantai mesjid sebagai alas untuk bersembahyang. Bentuk atap menyerupai belah kerucut dan berlapis tiga buah dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Berdasarkan sejarah bahwa Mesjid Raya Baiturrahman pernah dibakar dua kali oleh Belanda. Pertama pada tanggal 10 April 1873 dan dalam pertempuran ini Mayor Jenderal J.H.R Kohler tewas di depan mesjid tersebut, tepatnya di bawah sebatang pohon Geulumpang, yang belakangan orang-orangg Belanda menamakannya Kohler Boom. Kedua pada tanggal 6 Januari 1874. Meskipun mesjid tersebut dipertahankan secara mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh,  tetapi karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan, akhirnya mesjid ini jatuh kembali ke tangan Belanda. Mesjid ini tidak hanya jatuh ke tangan musuh tetapi juga habis dibakar. Tidak lama kemudian, Belanda mengumumkan bahwa Aceh sudah berhasil ditaklukkan.

Empat tahun kemudian tepatnya pada pertengahan Bulan Safar 1294 h (awal maret 1877 M) dengan mengingat janji Van Swieten dulu, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Mesjid Raya Baiturrahman pada lokasi yang sama. Kemudian, pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 pembangunan kembali mesjid ini mulai dilakukan oleh Gubernur Jenderal Van Der Heiden. Peletakan batu pertama diwakili oleh Teungku Qadli Malikul Adil dan disaksikan oleh rakyat Aceh yang berada di sekitar mesjid itu. Pada tanggal 24 Safar 1299 H atau 27 Desember 1881 M, pembangunan mesjid ini dinyatakan selesai dan dapat dipergunakan oleh rakyat Aceh. 

Museum Aceh  
Pemerintah Belanda pada tahun 1914 membangun Rumoh Atjeh (Rumah Aceh). Adapun fungsi Rumoh Atjeh tersebut sebagai tempat pameran barang-barang yang berasal dari Aceh dalam Pameran Kolonial (de-koniale tenstoonsteling). Pameran ini dilaksanakan di Semarang Jawa Tengah pada tanggal 13 s.d. 15 Agustus 1915. Setelah selesai pameran, bangunan ini dibongkar dan dibawa kembali ke Kutaraja. Selanjutnya rumoh tersebut dibangun sesuai dengan bentuknya semula dan dijadikan Museum Aceh yang ditempatkan di samping lapangan eksplanade Kutaraja. Masyarakat juga menyebut museum ini dengan nama “Rumoh Aceh”. Museum itu sendiri pemakaiannya diresmikan pada tanggal 31 Juli 1915.
 
Saat ini Museum Negeri Aceh merupakan museum yang dikelola oleh Pemerintah dan sebagai tempat penyimpanan berbagai benda bersejarah, baik dari masa kerajaan hingga masa kemerdekaan. Koleksi yang ada di museum ini antara lain: Stempel Kerajaan Aceh, Replika Makam Malikul Saleh, naskah kuno, Mata Uang Kerajaan Aceh dan lain-lain.
Koleksi penting lain yang berada di museum ini adalah Lonceng Cakra Donya. Mengenai keberadaan Lonceng Cakra Donya terdapat beberapa versi. Salah satunya, berdasarkan angka tahun yang terdapat di bagian atasnya dapat diketahui bahwa Lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar Cina kepada Sultan Aceh dalam rangka mengikat persahabatan. Menurut Kremer dalam bukunya Aceh I bahwa Lonceng Cakra Donya ini telah dibuat dalam tahun 1469. Lonceng ini berukuran lebih kurang 1,25 meter tinggi dan mempunyai lebar 0,75 meter.Pada tanggal 2 Desember 1915 pada masa Gubernur H.N.A Swart menguasai istana kerajaan memberi perintah untuk menurunkan lonceng dari Pohon Ba’glondong karena khawatir pohon tersebut patah dan lonceng akan rusak, sehingga lonceng itu diletakkan di tanah. Lonceng itu diturunkan oleh orang-orang Cina, karena orang menganggap lonceng tersebut berhantu.
Pada tahun 1939 lonceng sultan yang telah tua itu digantungkan dengan sebuah rantai di dalam sebuah kubah dari kayu di depan Museum Negeri Aceh. Ternyata pada saat lonceng itu dibersihkan pada bagian luarnya terdapat hiasan-hiasan dengan simbol-simbol (ukiran-ukiran) dalam bentuk huruf Arab dan huruf Cina. Simbol-simbol tersebut telah aus dan inskripsi dalam huruf Arab tidak dapat dibaca lagi. Diduga bahwa tunangan-tunangan lonceng itu dahulu diberi lapisan-lapisan emas. Tanda-tanda yang bermacam-macam itu telah dipahat ke dalam besinya dan emasnya telah dimasukkan pada aluran-alurannya.

Lonceng itu mungkin merupakan lonceng kuil dan telah berkarat seluruhnya, sedangkan emasnya telah hilang dari bentuk-bentuk hurufnya dan mungkin sudah diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Huruf-huruf Cina pada lonceng itu berbunyi Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo yang dapakt diartikan sebagai berikut “ Sultan Sing Fa yang telah dituang di dalam 12 dari tahun 5”. 

Danau Laut Tawar
Daya tarik wisata yang sangat menarik di daerah ini adalah Danau Laut Tawar. Terletak di Takengon, ibukota Aceh Tengah, membuat danau ini lebih sering untuk dikunjungi. Ini merupakan danau Cladera yang dikelilingi oleh karang yang terjal yang cocok untuk memanjat tebing. Airnya berwarna biru dan segar untuk berebang kapan saja. Danau ini berisi ikan, tempat memancing yang sangat menarik selama liburan. Wisatawan dapat menikmati kapal wisata melalui jalan raya yang berada mengelilingi danau. Jangan lupa berhenti di gua Loyang Koro dan Loyang Pukes untuk menikmati pemandangan dan legenda uniknya.

Taman Sari Gunongan 

Salah satu benda peninggalan budaya yang bernilai sejarah dan masih dapat kita saksikan dalam keadaan utuh adalah Gunongan lengkap dengan Taman Sarinya. Gunongan ini terletak di pusat Kota Banda Aceh, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Lokasi ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor atau angkutan umum melaui Jalan Teuku Umar. Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninngalan Kerajaan Aceh, setelah keraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh.
 
Gunongan dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda yamg memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Malaka. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintannya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkerama keluarga kerajaan, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di Sungai Isyiki yang mengalir di tengah-tengah istana.

Pantai Iboih Sabang
Kawasan wisata Bahari Iboih merupakan kawasan wisata pantai yang sangat terkenal dengan aktifitas olah raga bawah laut, seperti berenang, diving dan snorkeling sambil menikmati keanekaragaman terumbu karang, ikan hias dan ikan karang (angel fish, surgeon fish, parrot fish dan beragam jenis ikan laut lainnya) yang jarang ditemui pada beberapa taman laut di tempat lain, seperti ikan napoleon. Kawasan wisata bahari Iboih yang didukung dengan sarana dan prasarana juga terdapat hutan wisata yang sangat indah dengan keanekaragaman dan kekayaan flora dan faunanya.

Pantai Kasih Sabang

Pantai ini benar-benar indah dan sangat menyenangkan. Terletak di bagian belakang kota dan perjalanan yang singkat dari akomodasi manapun di Sabang. Pantainya sangat indah untuk dikunjungi. Penduduk lokal biasanya menghabiskan waktu mereka di sore hari sampai malam.

Danau Aneuk Laot Sabang
Aneuk Laot dalam bahasa Aceh berarti ”Anak laut”. Danau besar ini merupakan waduk kolam air segar dam merupakan salah satu alasan untuk mendirikan pelabuhan di Sabang. Pemandangannya sangat menarik. Semoga akan ada dua kano untuk di sewakan. Tanyakan di losmen dimana anda menginap, jaraknya sekitar 40 menit dari kota. Berjalan sepanjang Pasiran dan kira-kira 300 meter di bawah Zwembad anda akan menemukan perusahaan listrik. Ambillah jalan ke kiri. Menuju ke atas anda menyeberangi lapangan rumput yang luas ke sebelah kiri. Jauh di ujungdan bukit anda dapat menikmati panorama yang indah sepanjang danau dengan latar belakang Pantai Sabang.

Pantai Gapang Sabang
Pantai Gapang merupakan wisata pantai yang sangat indah yang terkenal dengan pantai pasir putihnya dan terdapat sebuah Monumen KM 0 Republik Indonesia yang menjadi manifestasi bahwa Indonesia terbentang dari “Sabang Sampai Merauke”.

Pantai Tapak Gajah
Pantai yang menarik lainnya dekat kota adalah Pantai Tapak Gajah dengan jarak yang sangat dekat dengan Pantai Kasih. Pantai ini dikelilingi oleh berbagai batu karang yang memanjang di lautan dan menjadi tempat yang sesuai untuk kegiatan berenang, khususnya bagi anak-anak.

Pantai Sumur Tiga 
Di sebelah selatan Pantai Tapak Gajah adalah Pantai Sumur Tiga. Pantai tersebut memiliki warna putih dan terletak di bawah bukit yang curam yang dikelilingi oleh berbargai pepohonan, sehingga menciptakan suasana pantai yang teduh dan nyaman. Kegiatan menyelam juga dapat dilakukan di sepanjang pantai ini.

surfing Simeulue
Kabupaten Simeulue memiliki beberapa lokasi ideal untuk kegiatan surfing/selancar yang sangat diminati oleh peselancar utamanya dari luar nergeri seperti: Australia, Jerman, dan Prancis, karena memiliki ombak yang cukup tinggi mencapai 5 meter.  Lokasi tersebut antara lain di: Matanurung Busung, Alus-alus, Nancala, Pulau Teupah, Pulau Batu Belayar, Pulau Mincau, La`ayon dan Salur. Para peselancar umumnya datang ke Simeuleu dengan menggunakan pesawat udara rata-rata 3 – 5 orang dalam satu rombongan dan menginap selama rata-rata 5 – 6 hari.
Lokasi:
Jarak lokasi selancar / selancar untuk lokasi Matanurung Busung lebih kurang 12 km dari pusat kota atau  4 km dari Bandar Udara Lasikin, sedangkan untuk lokasi Nancala, Salur berjarak sektar 25 km dari pusat kota Sinabang dan 14 km dari Bandara Udara Lasikin dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan kondisi jalan baik dan beraspal.

#Disbudpar Aceh

21 April 2013

BENTENG INDRAPATRA, SEJARAH YANG TERLUPAKAN

BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.

Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.
 
Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.

Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.

Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.

Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.

Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.

Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.

Sumber: AtjehPost
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf

20 April 2013

BUDAYA NGOPI DI ACEH DAN MINUM BIR DI JERMAN

KOPI sejatinya ditemukan oleh bangsa Etiopia, yang pada zaman itu menggunakan biji kopi sebagai suplemen penambah tenaga yang dicampur dengan lemak hewan ataupun anggur, dipercaya dapat memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh.
 
Kata kopi sendiri berasal dari bahasa arab Qahwah, yang berarti kekuatan. Kata qahwah diadaptasi ke dalam bahasa Turki menjadi Kahfeh. Yang kemudian dibawa ke Eropa oleh bangsa Belanda dan berubah nama menjadi Koffie, kata yang banyak disadur ke dalam berbagai bahasa di dunia seperti Coffe (Inggris), Kaffe (Jerman), dan Kopi (Indonesia).

Secara umum kopi terbagi menjadi dua, Arabika yang merupakan kualitas paling baik, dan Robusta. Selain itu terdapat juga Kopi Luwak, yang sering disebut-sebut sebagai kopi dengan kualitas tertinggi, karena diperoleh dengan susah payah. Itu pun harus menunggu beberapa hari untuk menghasilkan hanya beberapa biji kopi yang konon katanya berasal dari (maaf) kotoran Luwak (sejenis musang). Tentu saja hal ini menjadikan kopi luwak menjadi kopi termahal, dan hanya segelintir orang yang beruntung saja yang pernah menikmati kopi jenis ini.

Berbangga hatilah Aceh dimana Kopi Gayo, yang berasal dari dataran tinggi tanah Gayo merupakan salah satu varietas kopi Arabika berkualitas tinggi. Bahkan di disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia. Hal ini yang menyebabkan kopi sangat identik dengan orang-orang Aceh. 7 dari 10 orang pria di Aceh adalah peminum kopi, walaupun bukan pecandu berat. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai warung kopi. Sebelum terjadinya Tsunami saja warung kopi sudah menjamur di seluruh daerah Aceh, baik di pelosok desa maupun di kota besar khususnya kota Banda Aceh. Hal ini yang saya rasakan sewaktu menjadi penduduk aceh kurun waktu 2001-2002. 

Bagi kami anak muda Aceh, tiada sah satu hari itu berlalu tanpa disertai dengan aktifitas nongkrong di warung kopi. Aktifitas ini bahkan bisa menyita waktu sampai 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam. Pagi hari pun, sebelum memulai aktifitas baik itu kuliah ataupun pergi kerja, masih disempat-sempatkan untuk singgah sebentar ke warung kopi. Hanya untuk bisa merasakan hangatnya seruput kopi di pagi hari yang dingin.

Pengalaman saya pada waktu itu merasakan betapa kuatnya daya tarik warung kopi sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian besar pria di Aceh. Sebagai mahasiswa tingkat satu pada waktu itu, warung kopi bukan hanya tempat untuk menikmati secangkir kopi, namun juga sebagai wadah anak-anak muda Aceh berkumpul dan saling bersilaturahmi. Pulang kuliah siang hari, sudah menjadi rutinitas kami untuk ngumpul-ngumpul di warung kopi untuk melepas penat sesaat dan lari dari padatnya jadwal kuliah yang sudah menguras tenaga dan pikiran. Tempat yang menjadi favorit pada waktu itu dimana lagi kalau bukan di Ulee Kareng, yang terkenal dengan kopi Ulee Karengnya bukan hanya dikenal oleh orang-orang Aceh, namun juga turis-turis mancanegara yang sama-sama sebagai pecinta kopi. 

Sebut saja nama-nama Cafe Flamboyan, Terapung, dan Solong. Semua anak muda kota Banda Aceh pasti pernah menikmati kopi di situ. Aktifitas itu kadang kami ulangi lagi di malam harinya di saat pikiran perlu di-refresh akibat pusing sehabis belajar, atau cuma karena suntuk tak ada kerjaan di rumah. Karena kemana lagi kami harus mencari pelampiasan kesenangan, di tempat dimana tidak adanya tempat hiburan semacam mall, apalagi klab malam. Tapi untunglah, karena tanpa adanya tempat-tempat sejenis itu, kami masih bisa menjaga akidah kami menjadi seperti sekarang.

Saya pernah baca sebuah cerita di salah satu artikel mengenai kebiasaan orang Aceh untuk duduk berlama-lama di warung kopi. Saya rasa sangat tepat menunjukkan kondisi “sosial” pria-pria Aceh pecinta warung kopi. Ceritanya tentang seorang suami yang setiap hari menghabiskan waktunya semalaman di warung kopi. Hanya dengan bermodalkan secangkir kecil kopi, ia bisa duduk tiap sepulang kerja dari jam 7 sampai jam 11 malam. Setiap malam. Sampai-sampai istrinya tak habis pikir. 

Padahal setiap malam ia juga menyajikan kopi ke suaminya, tapi tetap saja sang suami keluar setiap malamnya. Dengan alasan kopi yang dijual di warung lebih enak terasa di lidah. Diam-diam si istri membeli bubuk kopi yang sama seperti yang dijual di warung kopi tersebut, dan menyajikan ke suaminya keesokan malam. Namun apa lacur, si suami tetap berkata bahwa kopi yang dijual di warung terasa lebih nikmat. Jadi apa sebenarnya daya tarik warung kopi di Aceh?

Budaya kumpul-kumpul itu yang sebenarnya menjadi inti dari budaya ngopi masyarakat Aceh. Memang kualitas kopi tetap berpengaruh, tapi hal itu sama sekali bukan satu-satunya indikator larisnya suatu warung kopi di Aceh. Teman sewaktu minum kopi lah yang menjadi faktor kunci dari kenikmatan menghabiskan waktu berjam-jam di warkop (istilah mereka). Tak masalah mau di warung gubuk kecil, maupun di cafe sekelas international, yang penting dengan siapa mereka menghabiskan waktu bersama. 

Fenomena ini menunjukkan hal yang positif, setidaknya bagi saya. Dimana saya melihat orang Aceh terbukti sangat senang bersilaturahmi, berkumpul dengan sesamanya. Meskipun hanya untuk membicarakan omongan-omongan ringan yang tak berbobot dan cenderung penuh khayalan (cat langet istilah orang Aceh, atau kombur istilah orang Medan). Kalau tidak percaya, lihatlah warung kopi yang terletak di sudut persimpangan tujuh jalan Ulee Kareng. 

Mulai dari pejabat dengan mobil-mobil mewah terparkir di depan warung sampai mahasiswa dengan motor-motor bebek terparkir di halaman belakang. Hal yang dibicarakan juga beragam, dari soal politik negara yang carut marut, harga bensin yang terus naik, tender proyek, sampai masalah bagaimana mendapatkan hati sang gadis pujaan.

Pengalaman itu yang saya rasakan kembali ketika saya menginjakkan kaki di tanah Jerman ini. Perasaan seolah bagaikan de javu dimana sewaktu saya melihat pemandangan puluhan orang Jerman tua dan muda (mayoritas pria) duduk dalam sebuah warung minum dan menikmati segelas besar bir. Ya, bir memang, bukan kopi. Tetapi dengan atmosfer yang sama dengan yang saya rasakan ketika di Aceh dulu. Hanya jenis minuman yang disajikan saja yang berbeda. Hampir di setiap sudut jalan di semua kota di Jerman bisa ditemukan warung bir. 

Hal yang sama terjadi di Aceh dengan warung kopinya. Ketika saya bertanya ke salah seorang teman Jerman saya, hal apa yang menarik dari acara kumpul-kumpul dan menikmati segelas bir itu? “Well, bukan rasa bir nya yang membuat kami enjoy,” jawabnya. “Kami bisa saja menikmati bir di rumah. Tetapi berkumpul bersama kerabat dan teman-teman lah yang membuat kami sangat menikmati saat-saat itu”, tambahnya. Wow, hal yang sama yang saya rasakan ketika di Aceh, pikir saya.

Bukan maksud saya untuk menyamakan budaya minum bir dengan budaya minum kopi. Saya tau bir haram bagi agama Islam. Namun hal itu (bir) merupakan hal yang lumrah dan sangat lazim ditemukan di Jerman. Sama halnya dengan kopi di Aceh. Biarlah mereka hidup dengan agama dan keyakinannya, tak usahlah kita permasalahkan. Yang mau saya ulas di sini adalah kesamaan tingkah yang membuat saya amazed. Bahwasanya orang barat yang biasanya terkenal sangat individualis, ternyata di belahan Eropa sini masih juga menjunjung budaya silaturahmi, saling menjaga persaudaraan. 

Seperti halnya pengalaman saya ketika mengunjungi Volkfest (mirip seperti Oktoberfest) lalu, dimana dalam satu area luas terdapat beberapa warung minum bagaikan hangar pesawat yang didalamnya dapat menampung sampai 100 orang. Didalamnya lah berkumpul orang-orang Jerman menikmati bir sambil berbincang-bincang dengan kerabatnya. Tidak ada gap antara si kaya dan si miskin, semuanya sama di dalam situ. Mulai dari pengusaha berjas sampai petani dengan jeans belelnya duduk di satu meja mengobrol seru. Inilah orang Jerman, batin saya.

Saya yakin, tidak semua hal yang berhubungan dengan budaya barat bisa kita justifikasikan negatif. Dari apa yang saya alami selama di Jerman ini bisa menjadi bukti konkret bahwa masih ada hal-hal positif lainnya yang bisa kita pelajari dari budaya barat. Bukan ajakan untuk minum bir tentunya. Buang jauh-jauh pikiran itu. Petiklah hal-hal yang baik kemudian buanglah hal-hal yang buruk.


Oleh: Teuku Furqan, mahasiswa Aceh di Jerman
Sumber: ACW, FokusAceh

SENSASI KULINER KHAS ACEH

Aceh terkenal dengan kulinernya yang sangat kental dengan khas Timur Tengah dan India, karena bumbunya yang kaya akan rempah yang dicampurkan, sehingga rasanya kental dan bahkan pedas. 

Beberapa Makanan dan Minuman yang khas di Aceh di antaranya yakni Timphan, Martabak Aceh, Mi Aceh, Kue Karah, Kue Boi, dan Ayam Tangkap.

Timphan adalah kue khas Aceh yang biasanya isinya kelapa dan srikaya, asoe kaya,dan dibungkus oleh daun pisang. Timphan sangat terkenal di Aceh serta menjadi kue yang wajib dihidangkan pada perayaan hari besar terutama pada Idul Adha dan Idul Fitri. Setiap rumah penduduk, dari yang kaya hingga miskin, dari masyarakat kota hingga desa, pasti menghidangkan kue yang satu ini. Fenomena yang menarik adalah hampir semua ibu-ibu atau wanita Aceh bisa membuatnya. Saking terkenalnya Timphan ini di Aceh, sehingga banyak ungkapan/pribahasa dengan kata Timphan diantaranya yaitu "Uroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasa" (Hari baik bulan baik Timphan ibu buat harus dapat kurasakan). Saat ini, tidak hanya di Aceh, timphan juga sudah terkenal hingga ke luar Aceh. Banyak ditemukan timphan di restoran-restoran Aceh di pulau Jawa. 

Thimpan adalah kue istimewa dalam kehidupan masyarakat Aceh, khususnya di Sigli, Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Bireun, dan lainnya setiap Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. 

Biasanya thimpan untuk lebaran dimasak pada malam terakhir puasa atau malam takbiran pertama oleh para ibu dibantu remaja puteri di daerah-daerah tersebut. Di luar lebaran, para ibu di sana kurang tertarik membuat thimpan sendiri. Mereka yang ingin makan kue itu biasanya membeli di toko-toko roti, kendati rasanya berbeda bila membuat sendiri.
Timphan merupakan kue dan hidangan khas Aceh pada acara-acara penting di dalam kebudayaan Aceh. Timphan sering dibuat khusus untuk hari lebaran, pesta pernikahan yang merupakan hidangan pembuka utama bagi tamu yang hadir pada khanduri dalam kebudayaan Aceh. 

Bahan baku thimpan terdiri atas tepung ketan, pisang raja, gula, telur ayam kampung, kelapa, minyak goreng, dan pucuk daun pisang sebagai pembungkus. Kendati harga telur ayam kampung lebih mahal, para ibu di sana lebih memilih menggunakannya dibanding telur ayam buras. Karena rasanya jauh lebih enak. 

Buat orang-orang kampung dan juga warga di Serambi Mekkah, thimpan menjadi kue spesial lebaran yang tetap dipertahankan meskipun bahan bakunya semakin mahal. Tanpa thimpan srikaya ataupun kelapa pada hari raya, lebaran terasa kurang lengkap meskipun sudah ada aneka penganan lain. 

Thimpan yang biasanya ditempatkan di nampan lebar atau piring-piring ceper, menjadi kue utama untuk menjamu tamu lebaran. Bagi menantu, thimpan seolah menjadi hantaran wajib ke rumah mertua saat berlebaran. Bila sudah begini, rasanya tak berlebihan bila banyak orang yang bilang thimpan itu kue Aceh paling istimewa untuk lebaran. 

Lain lagi dengan Martabak Aceh. Martabak ini sekilas terlihat mirip dengan telur dadar biasa. Pembuatannya sedikit berbeda dari martabak telur pada umumnya, karena kocokan telur membungkus kulit martabaknya. 

Pembuatan martabak ini diawali dengan menggoreng kulit martabaknya terlebih dahulu dan dibentuk segi empat, mirip dengan pembuatan roti canai. Kemudian dilumuri dengan kocokan telur yang telah dicampur dengan rajangan bawang merah dan daun bawang. Tahap berikutnya digoreng seperti layaknya membuat dadar atau omelet, dengan kulit martabak yang berbentuk roti canai segi empat tadi sebagai intinya. Sebagai pelengkap rasa, martabak Aceh disajikan dengan acar bawang dan cabe rawit. Martabak Aceh cukup terkenal di luar Aceh. Bahkan di luar daerah Aceh martabak ini dimodifikasikan dengan menggunakan gulai daging yang berbumbu kari. 

Bagaimana dengan Mi Aceh? Cita rasa dari Mie Aceh berbeda dengan mie yang ada di daerah Indonesia lainnya. Mie Aceh biasanya disajikan dengan daging sapi, kepiting, ataupun udang. Mie Aceh juga lebih banyak menggunakan bumbu dan cabai sehingga rasanya sangat lezat dan pedas. Mie Aceh bisa digoreng ataupun direbus, sesuai dengan selera pembeli. Mie kepiting merupakan salah satu mie yang selalu dicari oleh wisatawan yang datang dari luar daerah dan juga sangat digemari oleh masyarakat lokal. Aromanya yang menggoda, memberikan nuansa kenikmatan didalam penyajiannya. Mie Aceh mudah dikenal dan banyak digemari oleh para penggemar kuliner di nusantara. Bahkan banyak wisatawan mancanegara yang mulai menggemari kuliner ini. Disamping rasanya yang lezat dan berbau timur tengah, mie aceh juga tak lepas dari rasa nuansa erofa dan cina. Benar-benar mie yang sangat sensasional dan yummy. Jika anda ingin menikmati kuliner yang benar-benar bernuansa universal,maka jangan lupa anda untuk mencoba jajanan ini. Dijamin anda tidak akan pernah kecewa.

Ada lagi yang namanya Kue Karah/ Keukarah, yakni sejenis penganan yang cukup populer dikalangan masyarakat Aceh terbuat dari tepung beras, berbentuk segitiga--sering juga berbentuk lipat dua-. Masyarakat Aceh menjadikan kue ini juga sebagai bagian dari adat dan upacara-upacara tradisional, khususnya di Aceh Barat, pada upacara pernikahan dan juga acara-acara kematian. Misal di Khanduri Peuet Ploeh. Namun, kue ini juga dikenal akrab oleh masyarakat di beberapa kabupaten lainnya di Aceh.

Kue berikutnya adalah Kue Boi, adalah penganan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti; bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Boi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran. Kue Boi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan. 

Kue Boi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Boi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

Kuliner Aceh lain adalah Ayam Tangkap, yang sangat terkenal di Aceh. Sajian makanan yang satu ini amat menarik, yaitu ayam berbumbu yang digoreng bersama daun rempah-rempah yang beraroma harum dan menggugah selera. Cara membuatnya yaitu ayamnya dipotong kecil-kecil (sebesar ibu jari) kemudian digoreng kering, kemudian disajikan dengan daun temburu dan cabe hijau yang juga digoreng kering. Walaupun bentuknya daun, karena digoreng kering maka daun temburu ini menjadi gurih seperti keripik. Rasanya tidak berbeda dengan ayam goreng biasa, namun dengan sajian keripik daun dan cabe hijau goreng ini menimbulkan sedikit cita rasa yang berbeda.

Abad XVII, seorang berkebangsaan Belanda membawa kopi arabika ke Batavia, kini Jakarta. Lambat laun, ketika Belanda menguasai Aceh, kopi itu sampai juga ke ujung utara Pulau Sumatra dengan jenis yang makin beragam.


Tumbuh dari tanah Nanggroe yang subur, dipadu cuaca yang mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu dan tentu menguntungkan. Apalagi kemudian, prosesnya sejak penggilingan hingga disaring menjadi secangkir minuman dengan cara yang khas, kopi Aceh menjelma sebagai ikon.

Aroma kopi Aceh sudah sejak lama terkenal di Indonesia, mungkin pula di dunia. Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesar di negeri kepulauan ini. Tanah Aceh menghasilkan sekitar 40 % biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Dan Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia. Memang kedahsyatan kopi Aceh ini sudah melegenda bahkan pasca tsunami, kopi Aceh semakin mendunia berkat banyaknya penikmat kopi dari para pekerja internasional yang datang untuk merekonstruksi Aceh.

Biji kopi terbaik di Aceh umumnya berasal dari Lamno. Biji kopi Aceh biasanya di-oven selama 4 jam untuk menghasilkan mutu terbaik. Setelah mencapai kematangan 80 % barulah dimasukkan gula dan mentega. Kemudian biji kopi yang telah masak digiling sampai halus. Yang khas dari Kopi Aceh adalah aromanya yang kuat, cita rasanya yang bersih dan tidak asam, serta efeknya yang mantap!
Yang membuat kopi Aceh lebih menarik adalah cara penyajiannya yang khas, dan sedikit berbeda dengan cara penyajian di warung-warung kopi di wilayah lain di Indonesia. Kopi diseduh, dan seduhan kopi disaring berulang kali dengan saringan dari kain yang bentuknya mirip kaus kaki, lalu menuangkan kopi itu berpindah-pindah dari satu ceret ke ceret yang lain. Hasilnya adalah kopi yang sangat pekat, harum, tetapi tidak mengandung bubuk kopi karena sudah tersaring di dalam "kaus kaki" tadi. Berbeda dengan kopi hitam di banyak daerah lain yang masih menyisakan ampasnya.

Menikmati kopi Aceh bukan hanya menikmati rasanya, tetapi juga tradisi budaya. Di Aceh, kedai kopi merupakan tempat berkumpul, bertemu dan membicarakan segala topik. Bagi orang Aceh mengunjungi kedai kopi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas sehari-hari. Sambil menikmati kopi, mereka bersosialisasi dan menjalin silaturahmi. "Semua masalah pasti bisa selesai di warung kopi," begitu kata orang Aceh.

19 April 2013

10 TEMPAT WISATA DI BANDA ACEH

Kadang-kadang sulit mencari obyek wisata kota. Tapi tidak begitu jika datang ke Banda Aceh. Sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, banyak sekali yang bisa dikunjungi di kota ini. Pelancong yang berkunjung ke sini dapat menikmati aneka obyek wisata Mulai dari wisata sejarah, wisata spiritual,  wisata kuliner, hingga kegiatan wisata untuk merenungi kekuatan alam sekaligus mempelajari fenomena tsunami sebagai sebuah pengetahuan.

Berikut 10 tempat yang hatus dikunjungi ketika melancong ke Banda Aceh:

1. Mesjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh populer di kalangan pewisata sejarah atau pewisata kota. Ia pernah menjadi pusat pertahanan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda. Mesjid ini pun menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri saat bangunan lain bersih disapu gelombang  tsunami pada Desember 2004. 

Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh. Dibangun pada tahun 1022 H/1612 M di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh.
2. Taman Sari Gunongan
Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636.Bangunan ini disebut-sebut sebagai simbol dari cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya, Putri Phang yang berasal dari Pahang, Malaysia. 

Dikisahkan sang permaisuri mengalami kesedihan dan rindu pada kampung halaman di tengah kesibukan sang suami sebagai kepala pemerintahan. Untuk menghibur permaisurinya, Sultan Iskandar Muda membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. 

Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana. Brakel (1975) melukiskan dalam Bustan, gunongan ini dikenal sebagai gegunungan dari kata Melayu gunung dengan menambahkan akhiran ‘an’ yang melahirkan arti “bangunan seperti gunung” atau “simbol gunung”. Jadi gunongan adalah simbol gunung yang merupakan bagian dari taman-taman istana Kesultanan Aceh.

3. Kerkhof
Kerkhof Peutjeut terletak di Jalan Teuku Umar. Letaknya berseberangan dengan Gunongan. 

tempat ini merupakan kompleks pekuburan militer Belanda terluas di dunia. Lebih 2200 serdadu dan pasukan sipil Belanda yang gugur dalam Perang Aceh dikuburkan di sini. 

Kherkhoff  dibangun tahun 1880. Tempat ini jadi kuburan resmi Belanda sejak Perang Aceh meletus pada Maret 1873. Ketika bencana tsunami menyapu Banda Aceh pada Desember 2004, kerkhof sempat terendam air dan dibenamkan lumpur. namun kini, kompleks makam ini telah bersih dan terawat baik. 

4. Pinto Khop

Bangunan bersejarah yang terletak di pusat kota banda Aceh ini merupakan pintu penghubung antara Istana dan Taman Putroe Phang. Pinto khop dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda. 

Wujudnya berupa pintu gerbang yang berbentuk kubah.Selain sebagai penghubung, konon Pinto khop juga menjadi tempat beristirahat putroe phang setelah lelah berenang di kolam yang ada di gunongan. Letaknya memang dekat dengan gunongan. Di sanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri,di sana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri mandi bunga.

5. Makam Sultan Iskandar Muda
Urutan pertama hingga empat, menyinggung nama Sultan Iskandar Muda. Sang Sultan Sendiri dimakamkan di kota Banda Aceh. Makamnya menjadi salah satu tempat sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan. 

Pengunjung yang berziarah ke makam ini, dapat mengenang betapa sang sultan merupakan tokoh penting dalam sejarah kesultanan Aceh. Kerajaan Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636. Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Islam Aceh menduduki peringkat kelima kerajaan Islam terbesar di dunia.

6. Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Masjid Baiturrahim adalah masjid bersejarah peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Dahulu, masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim. 

Terjangan tsunami pada 26 Desember 2004 silam meratakan seluruh bangunan di pesisir Ulee Lheu, Banda Aceh. Dan Masjid Baiturrahim menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri di kawasan pesisir tersebut meski tersapu Tsunami dan hanya mengalami kerusakan sekitar 20 persen. Karenanya masyarakat Aceh sangat mengaguminya, dan para pelancong menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata spiritual. 

7. Museum Aceh
Bangunan utama museum ini berupa rumah tradisional aceh atau Rumoh Aceh. Rumah ini memiliki sejara tersendiri, yakni merupakan rumah yang dibangun semasa Pameran Kolonial (1914) di Semarang. Pada saat pameran tersebut, rumah tradisional ini berhasil menyabet penghargaan paviliun terbaik.

Seluruh bangunan kemudian diboyong ke Banda Aceh dan diresmikan sebagai Atjeh Museum pada tanggal 31 Juli 1915. Dengan demikian menempatkannya sebagai salah satu museum bersejarah panjang di Bumi Nusantara.


8. Museum Tsunami
Obyek wisata ini merupakan sebuah museum baru yang khusus dibangun untuk mengenang gempa bumi Samudra Hindia 2004. Keberadaanya juga sekaligus menjadi pusat pendidikan dan tempat perlindungan dari tsunami.

Museum yang dirancang oleh arsitek Indonesia Ridwan Kamil ini menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004, foto-foto korban, dan kisah dari korban selamat.


9. Kapal Di Atas Rumah Lampulo

Kapal Di Atas Rumah di Lampulo adalah salah satu dari dari kapal-kapal yang terdampar kedaratan pada saat terjadi bencana Tsunami yang melanda Banda Aceh pada Desember 2004. Gelombang tsunami membawa kapal ini ke daratan hingga terdampar di atas rumah penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam.

Pemerintah Kota Banda Aceh mempertahankan keberadaan kapal ini hingga sekarang. Menjadi monumen untuk mengingat peristiwa tersebut. Kini situs peringatan tsunami dalam wujud kapal ini menjadi satu tujuan wisata oleh para pelancong yang ingin mengenang kedahsyatan maha-bencana tsunami beberapa tahun silam.


10. Kapal PLTD Apung
Kapal PLTD Apung ini memiliki bobot 2.600 ton. Ukuran panjangnya 63 meter dan luas 1.900 M2. Bisa dibayangkan bisa dibayangkan beban dan besarnya kapal.

Ketika gelombang tsunami menyapu Banda Aceh pada Desember 2004, gelombang tsunami menghempaskan banyak kapal dari lautan ke darat. Salah satunya adalah kapal PLTD apung. Kapal ini terlempar sejauh 3 m dari pantai.

Kapal ini menjadi satu monumen untuk mengenang maha-bencana tsunami Aceh. Sekaligus untuk mengingatkan manusia, betapa kuatnya kuasa Allah.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...