17 Mei 2013

WISATA UNGGULAN DI ACEH

Aceh selain terkenal dengan keistimewaannya, ternyata di Aceh juga terkenal dengan banyak tempat tujuan wisata yang memiliki pesona yang luar biasa. Nah, berikut ini ada beberapa destinasi wisata unggulan di Aceh yang sangat patut untuk Anda kunjungi:
Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 
Mesjid Raya Baiturrahman merupakan mesjid terbesar dan termegah di Aceh. Mesjid ini mempunyai arsitektur yang indah dan terletak di pusat Kota Banda Aceh. Mesjid Raya Baiturrahman tidak sekedar berfungsi sebagai sebuah tempat religious semata, tetapi juga mempunyai makna yang mendalam bagi masyarakat Aceh berkaitan dengan sejarah kependudukan Belanda di daerah ini pada masa lalu. Ketika Belanda belum menduduki Aceh, mesjid ini dipergunakan oleh para pejuang Aceh sebagai markas pertahanan mereka. 

Sebelum wujudnya yang seperti sekarang, beberapa tulisan tentang sejarah Mesjid Raya Baiturrahman menyebutkan bahwa mesjid ini mulai dibangun pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Namun ada juga yang menyebutkan bahwa mesjid ini dibangun pertama kali pada Pemerintahan Sultan Alaidin Mahmud Syah pada tahun 1292 (621 H). Perluasan mesjid juga dilakukan kembali pada masa Pemerintahan Nakiatuddin Kinayat Syah pada tahun 1675-1678 M.

Banyak orang tua di Aceh menyebutkan bahwa bentuk bangunan Mesjid Raya Baiturrahman ketika itu berkonstruksi kayu, bertatapkan daun rumbia dan berlantaikan tanah liat yang rata dan mengeras yang menyerupai semen setelah kering. Para jamaah menggunakan tikar dari daun pandan untuk menutupi lantai mesjid sebagai alas untuk bersembahyang. Bentuk atap menyerupai belah kerucut dan berlapis tiga buah dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Berdasarkan sejarah bahwa Mesjid Raya Baiturrahman pernah dibakar dua kali oleh Belanda. Pertama pada tanggal 10 April 1873 dan dalam pertempuran ini Mayor Jenderal J.H.R Kohler tewas di depan mesjid tersebut, tepatnya di bawah sebatang pohon Geulumpang, yang belakangan orang-orangg Belanda menamakannya Kohler Boom. Kedua pada tanggal 6 Januari 1874. Meskipun mesjid tersebut dipertahankan secara mati-matian oleh seluruh rakyat Aceh,  tetapi karena keterbatasan dan kesederhanaan persenjataan, akhirnya mesjid ini jatuh kembali ke tangan Belanda. Mesjid ini tidak hanya jatuh ke tangan musuh tetapi juga habis dibakar. Tidak lama kemudian, Belanda mengumumkan bahwa Aceh sudah berhasil ditaklukkan.

Empat tahun kemudian tepatnya pada pertengahan Bulan Safar 1294 h (awal maret 1877 M) dengan mengingat janji Van Swieten dulu, Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Mesjid Raya Baiturrahman pada lokasi yang sama. Kemudian, pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 pembangunan kembali mesjid ini mulai dilakukan oleh Gubernur Jenderal Van Der Heiden. Peletakan batu pertama diwakili oleh Teungku Qadli Malikul Adil dan disaksikan oleh rakyat Aceh yang berada di sekitar mesjid itu. Pada tanggal 24 Safar 1299 H atau 27 Desember 1881 M, pembangunan mesjid ini dinyatakan selesai dan dapat dipergunakan oleh rakyat Aceh. 

Museum Aceh  
Pemerintah Belanda pada tahun 1914 membangun Rumoh Atjeh (Rumah Aceh). Adapun fungsi Rumoh Atjeh tersebut sebagai tempat pameran barang-barang yang berasal dari Aceh dalam Pameran Kolonial (de-koniale tenstoonsteling). Pameran ini dilaksanakan di Semarang Jawa Tengah pada tanggal 13 s.d. 15 Agustus 1915. Setelah selesai pameran, bangunan ini dibongkar dan dibawa kembali ke Kutaraja. Selanjutnya rumoh tersebut dibangun sesuai dengan bentuknya semula dan dijadikan Museum Aceh yang ditempatkan di samping lapangan eksplanade Kutaraja. Masyarakat juga menyebut museum ini dengan nama “Rumoh Aceh”. Museum itu sendiri pemakaiannya diresmikan pada tanggal 31 Juli 1915.
 
Saat ini Museum Negeri Aceh merupakan museum yang dikelola oleh Pemerintah dan sebagai tempat penyimpanan berbagai benda bersejarah, baik dari masa kerajaan hingga masa kemerdekaan. Koleksi yang ada di museum ini antara lain: Stempel Kerajaan Aceh, Replika Makam Malikul Saleh, naskah kuno, Mata Uang Kerajaan Aceh dan lain-lain.
Koleksi penting lain yang berada di museum ini adalah Lonceng Cakra Donya. Mengenai keberadaan Lonceng Cakra Donya terdapat beberapa versi. Salah satunya, berdasarkan angka tahun yang terdapat di bagian atasnya dapat diketahui bahwa Lonceng ini merupakan hadiah dari Kaisar Cina kepada Sultan Aceh dalam rangka mengikat persahabatan. Menurut Kremer dalam bukunya Aceh I bahwa Lonceng Cakra Donya ini telah dibuat dalam tahun 1469. Lonceng ini berukuran lebih kurang 1,25 meter tinggi dan mempunyai lebar 0,75 meter.Pada tanggal 2 Desember 1915 pada masa Gubernur H.N.A Swart menguasai istana kerajaan memberi perintah untuk menurunkan lonceng dari Pohon Ba’glondong karena khawatir pohon tersebut patah dan lonceng akan rusak, sehingga lonceng itu diletakkan di tanah. Lonceng itu diturunkan oleh orang-orang Cina, karena orang menganggap lonceng tersebut berhantu.
Pada tahun 1939 lonceng sultan yang telah tua itu digantungkan dengan sebuah rantai di dalam sebuah kubah dari kayu di depan Museum Negeri Aceh. Ternyata pada saat lonceng itu dibersihkan pada bagian luarnya terdapat hiasan-hiasan dengan simbol-simbol (ukiran-ukiran) dalam bentuk huruf Arab dan huruf Cina. Simbol-simbol tersebut telah aus dan inskripsi dalam huruf Arab tidak dapat dibaca lagi. Diduga bahwa tunangan-tunangan lonceng itu dahulu diberi lapisan-lapisan emas. Tanda-tanda yang bermacam-macam itu telah dipahat ke dalam besinya dan emasnya telah dimasukkan pada aluran-alurannya.

Lonceng itu mungkin merupakan lonceng kuil dan telah berkarat seluruhnya, sedangkan emasnya telah hilang dari bentuk-bentuk hurufnya dan mungkin sudah diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Huruf-huruf Cina pada lonceng itu berbunyi Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Yat Tjo yang dapakt diartikan sebagai berikut “ Sultan Sing Fa yang telah dituang di dalam 12 dari tahun 5”. 

Danau Laut Tawar
Daya tarik wisata yang sangat menarik di daerah ini adalah Danau Laut Tawar. Terletak di Takengon, ibukota Aceh Tengah, membuat danau ini lebih sering untuk dikunjungi. Ini merupakan danau Cladera yang dikelilingi oleh karang yang terjal yang cocok untuk memanjat tebing. Airnya berwarna biru dan segar untuk berebang kapan saja. Danau ini berisi ikan, tempat memancing yang sangat menarik selama liburan. Wisatawan dapat menikmati kapal wisata melalui jalan raya yang berada mengelilingi danau. Jangan lupa berhenti di gua Loyang Koro dan Loyang Pukes untuk menikmati pemandangan dan legenda uniknya.

Taman Sari Gunongan 

Salah satu benda peninggalan budaya yang bernilai sejarah dan masih dapat kita saksikan dalam keadaan utuh adalah Gunongan lengkap dengan Taman Sarinya. Gunongan ini terletak di pusat Kota Banda Aceh, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Lokasi ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor atau angkutan umum melaui Jalan Teuku Umar. Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninngalan Kerajaan Aceh, setelah keraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh.
 
Gunongan dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda yamg memerintah tahun 1607-1636. Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Malaka. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintannya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkerama keluarga kerajaan, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di Sungai Isyiki yang mengalir di tengah-tengah istana.

Pantai Iboih Sabang
Kawasan wisata Bahari Iboih merupakan kawasan wisata pantai yang sangat terkenal dengan aktifitas olah raga bawah laut, seperti berenang, diving dan snorkeling sambil menikmati keanekaragaman terumbu karang, ikan hias dan ikan karang (angel fish, surgeon fish, parrot fish dan beragam jenis ikan laut lainnya) yang jarang ditemui pada beberapa taman laut di tempat lain, seperti ikan napoleon. Kawasan wisata bahari Iboih yang didukung dengan sarana dan prasarana juga terdapat hutan wisata yang sangat indah dengan keanekaragaman dan kekayaan flora dan faunanya.

Pantai Kasih Sabang

Pantai ini benar-benar indah dan sangat menyenangkan. Terletak di bagian belakang kota dan perjalanan yang singkat dari akomodasi manapun di Sabang. Pantainya sangat indah untuk dikunjungi. Penduduk lokal biasanya menghabiskan waktu mereka di sore hari sampai malam.

Danau Aneuk Laot Sabang
Aneuk Laot dalam bahasa Aceh berarti ”Anak laut”. Danau besar ini merupakan waduk kolam air segar dam merupakan salah satu alasan untuk mendirikan pelabuhan di Sabang. Pemandangannya sangat menarik. Semoga akan ada dua kano untuk di sewakan. Tanyakan di losmen dimana anda menginap, jaraknya sekitar 40 menit dari kota. Berjalan sepanjang Pasiran dan kira-kira 300 meter di bawah Zwembad anda akan menemukan perusahaan listrik. Ambillah jalan ke kiri. Menuju ke atas anda menyeberangi lapangan rumput yang luas ke sebelah kiri. Jauh di ujungdan bukit anda dapat menikmati panorama yang indah sepanjang danau dengan latar belakang Pantai Sabang.

Pantai Gapang Sabang
Pantai Gapang merupakan wisata pantai yang sangat indah yang terkenal dengan pantai pasir putihnya dan terdapat sebuah Monumen KM 0 Republik Indonesia yang menjadi manifestasi bahwa Indonesia terbentang dari “Sabang Sampai Merauke”.

Pantai Tapak Gajah
Pantai yang menarik lainnya dekat kota adalah Pantai Tapak Gajah dengan jarak yang sangat dekat dengan Pantai Kasih. Pantai ini dikelilingi oleh berbagai batu karang yang memanjang di lautan dan menjadi tempat yang sesuai untuk kegiatan berenang, khususnya bagi anak-anak.

Pantai Sumur Tiga 
Di sebelah selatan Pantai Tapak Gajah adalah Pantai Sumur Tiga. Pantai tersebut memiliki warna putih dan terletak di bawah bukit yang curam yang dikelilingi oleh berbargai pepohonan, sehingga menciptakan suasana pantai yang teduh dan nyaman. Kegiatan menyelam juga dapat dilakukan di sepanjang pantai ini.

surfing Simeulue
Kabupaten Simeulue memiliki beberapa lokasi ideal untuk kegiatan surfing/selancar yang sangat diminati oleh peselancar utamanya dari luar nergeri seperti: Australia, Jerman, dan Prancis, karena memiliki ombak yang cukup tinggi mencapai 5 meter.  Lokasi tersebut antara lain di: Matanurung Busung, Alus-alus, Nancala, Pulau Teupah, Pulau Batu Belayar, Pulau Mincau, La`ayon dan Salur. Para peselancar umumnya datang ke Simeuleu dengan menggunakan pesawat udara rata-rata 3 – 5 orang dalam satu rombongan dan menginap selama rata-rata 5 – 6 hari.
Lokasi:
Jarak lokasi selancar / selancar untuk lokasi Matanurung Busung lebih kurang 12 km dari pusat kota atau  4 km dari Bandar Udara Lasikin, sedangkan untuk lokasi Nancala, Salur berjarak sektar 25 km dari pusat kota Sinabang dan 14 km dari Bandara Udara Lasikin dapat ditempuh menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat dengan kondisi jalan baik dan beraspal.

#Disbudpar Aceh
Penilaian Anda:

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...