06 Maret 2013

MIE ACEH YANG MENDUNIA

Nampaknya tidak berlebihan jika kita katakan bahwa Mie Aceh menyimpan misteri kelezatan yang luar biasa. Karena sensasi kelezatan Mie Aceh sudah lama melanda wilayah nusantara. Hal ini terbukti dengan banyaknya resto panganan nusantara yang kerap menjadikan Mie Aceh sebagai menu andalannya.
Ternyata, pemandangan tersebut tidak hanya terdapat di kota-kota nusantara saja. Malah, telah mulai menyebar ke berbagai kota dunia lainnya. Taroklah seperti, Malaysia, Singapore, Thailand, Arab Saudi, Mesir, Jerman dan Amerika. Umumnya, panganan Mie Aceh di negara-negara tersebut, awalnya diperkenalkan langsung oleh masyarakat Aceh yang berdomisli di negeri itu. Kemudian, karena rasanya dinilai unik,  mendorong beberapa resto Asian Food di negara tersebut mengadopsi menu istimewa Mie Aceh, lalu menjadikannya bagian dari menu suguhan mereka di resto tersebut.
Sayangnya, setelah penulis menyicipi langsung beberapa suguhan Mie Aceh di beberapa resto tanah air, baik di Bandung, Bogor dan Jakarta. Sebagai pencinta berat kuliner khas Aceh yang satu ini. Penulis sangat kecewa. Karena, hampir rata-rata resto-resto tersebut menyuguhkan racikan bumbu asal jadi, atau istilah kerennya Mie Aceh dengan bumbu kanibalisme. Sehingga sensasi kelezatan asli sama sekali tidak tersentuh lagi.
Berdasarkan pengalaman kurang puas inilah, sehingga memaksa penulis untuk melakukan kunjungan spesial, dalam rangka menyicipi sensasi kelezatan kuliner Aceh yang satu ini, langsung ke negeri asalnya yaitu Serambi Mekkah.
Tepat jam 21.35 WIB minggu lalu, penulis mendarat di lapangan udara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, yaitu bandara kebanggaan masyarakat Aceh. Ternyata di sana sudah ada dua orang sobat Kompasianer yang menyambut, kemudian langsung menuju ke hotel yang telah dibooking sebelumnya. 30 menit kemudian, setelah beristirahat beberapa saat. Petualangan menjelajahi kuliner Aceh pun di mulai. Suasana di Banda Aceh memang termasuk unik, karena sebagian besar kedai kopi, hampir rata-rata buka selama 24 jam. Sehingga membuat suasana malam pun terlihat hidup dan semarak. Apalagi pada setiap kedai kopi, juga menyuguhkan aneka ragam menu panganan khas Aceh. Ya sudah, karena kami pun sedang berburu Mie Aceh, akhirnya memilih sebuah kedai kopi yang sangat terkenal dan selalu ramai dikunjungi pelanggan di daerah Simpang Surabaya. Setelah memesan 3 porsi Mie Aceh rebus spesial, plus bandrek kacang, lalu kami pun sabar menanti order tersebut.
Dari kejauhan kami dapat mencium aroma tumis bumbu Mie Aceh yang sangat khas dan menggigit. Sehingga lidah pun semakin tergoda untuk segera menyicipinya. Ternyata memang maknyos….! Dengan rasa yang luar biasa, karena ditaburi racikan bumbu-bumbu spesial yang tepat dan beraroma khas serta lezat. Tanpa kami sadari, masing-masing kami telah menghabiskan dua porsi Mie Aceh rebus spesial, luar biasa ! Apalagi didampingi dengan minuman hangat bandrek kacang wow…., kebetulan malam itu udara kota Banda Aceh terasa lebih sejuk, sehingga betul-betul menjadikan suasana sangat klop dah.! Tanpa terasa, jarum jam pun telah menunjukkan 01.30, lalu kami pun bergegas meninggalkan tempat tersebut, yang terlihat semakin ramai saja dikunjungi oleh pelanggan. Padahal malam semakin larut ckckckck…kerenn.
Keesokan paginya, penulis sudah berencana untuk menyebrang ke kota Takengon. Yaitu ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Katanya di kota tersebut panganan Mie Aceh lebih dahsyat lagi. Terutama ramuan bumbu-bumbunya yang sangat khas, karena disesuaikan dengan kondisi daerah yang berudara sejuk, sebab berada pada ketinggian 2250m di atas permukaan laut. Ternyata, sesampai di kota sejuk tersebut, penulis disambut dengan ramah oleh seorang Kompasianer senior yaitu Pak Syukri. Akhirnya, penjelajahan pun semakin menyenangkan. Tujuan utama adalah menyicipi Mie Aceh khas Aceh Tengah di warung Bang Adek, yang rasanya luar biasa, di samping harganya pun sangat-sangat murah. Satu porsi Mie Aceh rebus daging, hanya dipatok seharga Rp. 8000 saja. Sangat jauh berbanding dengan harga yang dijual di ibukota.
Berakhir dari warung Bang Adek. Eeehh..ternyata penulis langsung dibawa oleh Pak Syukri ke sebuah kota kecil, yang letaknya sedikit di luar kota Takengon, pastinya di sebuah tebing gunung. Lalu, kami pun berhenti di sebuah coffee shop milik Haji Yusrin, yang terkenal sebagai Coffee Expert di daerah itu. Memang benar, segelas kopi Americano dari biji kopi super premium Gayo arabica, hasil racikan Haji Yusrin lezatnya aduhai… Maaf kata, sederetan coffee shop yang berada di wilayah Thamrin pun belum sebanding dengan apa yang disuguhkan Haji Yusrin kapada kami.
Memang Gayo menyimpan rahasia yang luar biasa. Apalagi jika menyangkut dengan persoalan kopi. Wow…inilah dia gudang kopi termasyhur di dunia dengan julukan Gayo Specialty Coffee. Di mana, selama 350 tahun terus dicakar oleh dominasi kolonialisme Belanda, yang seakan enggan bergerak dari negeri antara itu walau hanya sejengkal saja.
Karena malampun sudah semakin menggulita, apalagi udara dingin datang semakin menusuk pori-pori kulit, kami pun bergegas kembali dengan membawa  pengalaman petualangan kuliner Mie Aceh dan Kopi Gayo yang sulit untuk dilupakan, karena sensasinya yang luar biasa.

* Oleh: Masykur A. Baddal
Penilaian Anda:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...