29 Oktober 2012

FILSAFAH HIDUP & FILSAFAH POLITIK BAGI RAKYAT DAN KERAJAAN ACEH DARUSSALAM

Istana Daruddunia - Kerajaan Aceh Darussalam
Karya: Sayed Dahlan Al-Habsyi
Penggabungan kerajaan Islam Perlak, kerajaan Islam Samudra/Pasai, kerajaan Islam Benua, Kerajaan Islam Lingga, Kerajaan Pidhi, kerajaan Islam Jaya kedalam kerajaan Aceh dibawah nama kerajaan Aceh Darussalam dengan ibu kota Negara Banda Aceh Darussalam pada masa Sulthan Alaidin Husain Syah, telah mempercepat Islamisasi Aceh, sehingga dalam masa pemerintahan Sulthan Alaidin Ali Mughayat Syah (916-936 H = 1511-1530 M), masa pemerintahan Sulthan Alaidin Riayat Syah II Abdul Kahhar (945-979 H = 1539-1571 M), masa pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Darraa Wangsa Perkasa Alam Syah (916-1045 H = I607-I636 M) dan masa pemerintahan Sulthanah Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Syah Berdaulat (1050-1086 H = 1641-1675 M), Islam benar-benar telah menjiwai seluruh cabang kehidupan Rakyat Aceh, baik kehidupan politik, kehidupan ekonomi, kehidupan sosial ataupun kehidupan seni budaya.
Islamisasi segala cabang kehidupan Rakyat Aceh dilambangkan oleh sebuah "Hadih Maja" yang menjadi filsafah hidup dan filsafah politik bagi Rakyat dan Kerajaan Aceh Darussalam, yang berbunyi:
"'Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah kuala, Kanun bak Putro Phang, Reusam bak Laksamana"
"Hukom ngoen adat, Lage zat ngon sifeut"

Terjemahan harfayah:
"Hukum Adat ditangan raja, Hukum agama ditangan Ulama, Hak membuat undang-undang ditangan Puteri Pahang sebagai lambaig dari Rakyat, Kekuasaan darurat/dalam keadaan perang ditangan laksamana sebagai Panglima Besar Angkatan Perang"
"Hukum agama dengan hukum adat, seperti zat dengan sifat"

Hadih Maja ini dalam kedudukannya sebagai suatu filsafat politik telah menggariskan pembahagian kekuasaan dalam Kerajaan Aceh Darussalam, yaitu:
1. Sulthan Imam Malikul Adil sebagai Kepala Negara/Pemerintahan adalah pemegang kekuasaan politik (adat), atau pemegang kekuasaaneksekutif.
2. Kadli Malikul Adil (Ulama) sebagai ketua Mahkamah Agung, adalah pemegang kekuasaan hukum (yudikatif)
3. Rakyat adalah pemegang kekuasaan pembuat undang-undang (legeslatif), yang dalam Hadih Maja ini dilambangkan oleh Puteri Pahang (Permaisuri Sulthan Iskandar Muda), yang mempelopori pembentukan Balai Majlis Mahkamah Musyawarah Rakyat.
4. Pada waktu negara dalam keadaan bahaya/keadaan perang, pemegang segala kekuasaan dalam negara adalah Panglima Besar Angkatan Perang, yang dalam istilah Hadih Maja ini disebut Laksamana, yaitu Menteri Peperangan atau Wazirul Harb.
Sungguhpun ada pembahagian kekuasaan seperti yang tersebut diatas namun ada satu ketentuan lain yang tidak boleh menyimpang dari padanya, seperti yang ditegaskan dalam Hadih Maja tersebut pada dua baris terakhir yaitu: "Hukom ngoen adat, lage zat ngon sifeut". Maksudnya, bahwa politik (adat) dengan hukum Islam adalah seperti zat dengan sifat menjadi satu tidak boleh dipisahkan, sehingga antara pemegang kekuasaan politik (Sulthan Imam Malikul Adil) dengan pemegang kekuasaan hukum (Kadli Malikul Adil) haruslah selalu ada kerja sama, harus menjadi seperti zat dengan sifa.
Hadih Maja tersebut diatas dalam kedudukannya sebagai filsafat hidup dari Rakyat Aceh berarti:
1. Segala cabang kehidupan negara dan rakyat, haruslah berjiwa dan bersendi Islam.
2.  Wajah politik dan wajah Agama Islam pada batang tubuh masyarakat dan Negara Aceh telah menjadi satu.
3.  Sifat gotong-royong yang menjadi ciri khas Islam, telah menjadi landasan berpijak bagi Rakyat dan Kerajaan Aceh Darussalam, yang dalam bahasa Aceh disebut "Meuseuraya".
Yang dimaksud dengan "Hukum" dalam Hadih Maja tersebut yaitu Hukum Islam, karena Undang-undang Dasar Aceh yang bernama Kanun Meukuta Alam menegaskan, bahwa hukum yang berlaku dalam Kerajaan Aceh Darussalam, adalah Hukum Islam, dengan sumber Hukumnya: Al-Quran, Al-Hadis, Al-Ijma' dan Al-Qiyas.
Berdasarkan Hadih Maja tersebut. diatas yang telah menjadi filsafat hidup bagi Rakyat dan Kerajaan Aceh Darussalam dan telah menjadi ketentuan pasti sebagai Jalan Hidup (Way of Life) dari Rakyat Aceh, maka dengan sendirinya Hadih Maja itupun menjadi sumbernya semangat Aceh, menjadi sumbernya Kebudayaan Aceh, termasuk seni budaya, juga seni sastra, bahkan menjadi sumbernya cita dan cinta, sehingga karenanya Aceh bergelar Serambi Mekkah.

Referensi : Dada Meuraxa, 1976, Ungkapan Sejarah Aceh, Kumpulan dari beberapa tulisan A. Hasymy.



Sumber
Penilaian Anda:

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...