20 April 2013

“MOSQUE SCHOOLING”; KIBLAT PENDIDIKAN YANG SEBENARNYA (SELAMA INI TERPINGGIRKAN)

Sudah bercampur-aduk dalam sturktur pemikiran saya menenai ilmu pendidikan. Mulai dari buku-buku motivasi pengajaran, metode pengajaran, pendekatan, media, etc. Semuanya mengarah pada tujuan “duniawiyah”.

Sempat terbetik dalam pemikiran saya, bahwa ada sebuah pendidikan yang akan meretas semua kasus, konflik dalam dunia pendidikan ini. Inilah “Mosque Schooling”. Sudah lumrah jika saya mengatakan “Home Schooling”, yang berdefenisi semua kurikulum pendidikan berbasis pada orang-orang rumah. Namun, kini saya menwarkan hal yang selama ini tertidur. Inilah yang saya sebut “pendikakan berbasis di masjid”.

Mengapa saya mengambil basis pengajaran di masjid? Bukankah secara umum pendidikan di kelas? Saya menilai selama ini kita terlalu mengedepankan “pembangunan baru”, mengupdate perkembangan, maka terdesainlah kelas, hingga menjadi sekolah. Itupun bertingkat-tingkat. Tragisnya kita berlomba untuk itu.

Apalagi pada masa Nabi dan khulafa ar Rasyidin, masjid berfungsi sebagai tempat beribadah, menuntut ilmu, dan merencanakan kegiatan kemasyarakatan. Dan sekarang ini semua kabur. Kemanakah semua ini? Terfokus pada menuntut ilmu?

Perhatikanlah, saya menilai itu semua terlalu ceroboh, bukankah ada sebuah lokasi “aman” di sana? Itulah masjid.

Definisi “Masjid”
Menurut istilah yang dimaksud masjid adalah suatu bangunan yang memiliki batas-batas tertentu yang didirikan untuk tujuan beribadah kepada Allah seperti shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya. Dan lebih spesifik lagi yang dimaksud masjid di sini adalah tempat didirikannya shalat berjama’ah, baik ditegakkan di dalamnya shalat jum’at maupun tidak. Allah berfirman,
” . , (tetapi) janganlah kamu campuri mereka (istri-istri kamu) itu sedang kamu ber-i’tikaf dalam mesjid .” (QS. al-Baqarah: 187)

Keutamaan Mendatangi Masjid untuk Belajar
Banyak keutamaan yang disebutkan oleh hadits-hadits nabawiah. Kami mencukupkan dengan hanya menyebutkan sebagian di antaranya:
  1. “Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya dan memperbaiki wudhunya kemudian dia mendatangi masjid, maka dia adalah orang yang berziarah kepada Allah, dan sudah kewajiban bagi yang diziarahi untuk memuliakan orang yang berziarah.”(Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)
  2. “Barangsiapa yang pergi atau berangkat ke masjid maka Allah akan mempersiapkan untuknya hidangan di dalam surga setiap kali dia pergi atau berangkat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2/117), Muslim (2/132)
  3. “Barangsiapa yang berangkat ke masjid jamaah, maka setiap langkahnya akan menghapuskan kejelekan dan setiap langkahnya akan dituliskan pahala, pergi dan pulangnya.” Ini berasal dari hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash.
  4. “Barangsiapa yang berjalan di kegelapan malam menuju ke masjid maka dia akan berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla- dengan cahaya pada hari kiamat.” Ini dibawakan oleh Al-Mundziri (1/129) dari hadits Abu Ad-Darda` secara marfu’.
Subhanallah, ini baru mendatangi masjid untuk mendirikan konteks pelajaran di sini. Bagaimana lagi jika diakumulasi dengan nilai pahala bagi pelajar yang menuntut ilmu? Saya yakin akan menggunung kebaikan di sana. Sekarang kita timbulkan pertanyaan, apakah ada pahala mendatangi sekolah? Apakah negeri atau swasta? Yang saya maksudkan mendatangi bentuk fisiknya! Apakah ada redaksi hadits bahwa Rasulullah merekomendasikan untuk mendatangi sekolah? Saya yakin pendapat kita sama.

Sekarang kita bisa membahas mengenai tujuan anak-anak ke sekolah. Survei pasti menyebut bahwa rata-ratas siswa mendatangi sekolah hanyalah sebatas mencari teman, mencari pacar, hiburan, kewajiban paksaan orang tua! Tidak ada niat ke arah mendapatkan pahala ilmu. Sangat sedikit yang demikian.

Pengakuan Ilmuan tentang “Mosque Schooling”
Sejarawan asal Palestina, AL Tibawi, menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya, masjid dan pendidikan Islam adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di dunia Islam, sekolah dan masjid menjadi satu kesatuan. “Sejak pertama kali berdiri, masjid telah menjadi pusat kegiatan keislaman, tempat menunaikan shalat, berdakwah, mendiskusikan politik, dan sekolah.”

Sejarah peradaban Islam mencatat, aktivitas pendidikan berupa sekolah pertama kali hadir di masjid pada tahun 653 M di kota Madinah. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah, sekolah di Masjid pun mulai muncul di Damaskus pada tahun 744 M.

Di wilayah Spanyol Muslim, aktivitas pendidikan pada umumnya bertempat di masjid. Masjid menjadi pusat aktivitas belajar-mengajar di mulai di daerah kekuasaan Dinasti Umayyah itu sejak berdirnya Masjid Cordoba pada abad ke-8 M. Kegiatan belajar-mengajar di masjid memang terbilang unik dan sangat khas. Format dasar pendidikan di masjid adalah belajar dengan melingkar.

Masjid-masjid besar yang menyelenggarakan aktivitas pendidikan mampu menarik perhatian para ilmuwan dan pelajar dari berbagai belahan di dunia Islam. Pada abad ke-12 M, misalnya, aktivitas keilmuwan yang digelar di Masjid Sankore Timbuktu, Mali Afrika Barat mampu mendatangkan 25 ribu siswa dari berbagai negara. Pendidikan yang diselenggarakan di masjid pada masa kejayaan Islam mampu melahirkan sederet tokoh Muslim terkemuka.

Pendidikan yang digelar di masjid pada zaman kejayaan Islam ternyata mampu memberi pengaruh terhadap pendidikan di Eropa. Menurut George Makdisi, guru besar Studi Islam di Universitas Pennsylvania, pendidikan masjid yang diselenggarakan di era kekhalifahan telah memberi pengaruh kepada peradaban Eropa melalui sistem pendidikan, universalitas, metode pengajaran, dan gelar kesarjanaan yang diberikan.

Pentolan Siswa “Mosque Schooling”
Inilah beberapa manusia teragung keluaran “Mosque Schooling”, meraka menghabiskan banyak waktunya di sana, diantaranya:
  1. Generasi shahabat yang langsung dipimpin oleh empat khalifah Ar-Rasyidin: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.
  2. Generasi tabiin dan diantara tokoh mereka adalah Sa’id bin Al-Musayyib (meninggal setelah tahun 90 H), ‘Urwah bin Az-Zubair (meninggal tahun 93 H), ‘Ali bin Husain Zainal Abidin (meninggal tahun 93 H), Muhammad bin Al-Hanafiyyah (meninggal tahun 80 H), ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud (meninggal tahun 94 H atau setelahnya), Salim bin Abdullah bin ‘Umar (meninggal tahun 106 H), Al-Hasan Al-Basri (meninggal tahun 110 H), Muhammad bin Sirin (meninggal tahun 110 H), ‘Umar bin Abdul ‘Aziz (meninggal tahun 101 H), dan Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (meninggal tahun 125 H).
  3. Generasi atba’ at-tabi’in dan diantara tokoh-tokohnya adalah Al-Imam Malik (179 H), Al-Auza’i (107 H), Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri (161 H), Sufyan bin ‘Uyainah (198 H), Ismail bin ‘Ulayyah (193 H), Al-Laits bin Sa’d (175 H), dan Abu Hanifah An-Nu’man (150 H).
  4. Generasi setelah mereka, diantara tokohnya adalah Abdullah bin Al-Mubarak (181 H), Waki’ bin Jarrah (197 H), Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (203 H), Abdurrahman bin Mahdi (198 H), Yahya bin Sa’id Al-Qaththan (198 H), ‘Affan bin Muslim (219 H).
  5. Murid-murid mereka, diantara tokohnya adalah Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H), Yahya bin Ma’in (233 H), ‘Ali bin Al-Madini (234 H).
  6. Murid-murid mereka seperti Al-Imam Bukhari (256 H), Al-Imam Muslim (261 H), Abu Hatim (277 H), Abu Zur’ah (264 H), Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan An-Nasai (303 H).
  7. Generasi setelah mereka, diantaranya Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad- Daruquthni (385 H), Al-Khathib Al-Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Bar An-Numairi (463 H).
  8. Generasi setelah mereka, diantaranya adalah Abdul Ghani Al-Maqdisi, Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah (728 H), Al-Mizzi (743 H), Adz-Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H) berikut para ulama yang semasa mereka atau murid-murid mereka yang mengikuti manhaj mereka dalam berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sampai pada hari ini.
  9. Contoh ulama di masa ini adalah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Asy-Syaikh Muhammad Aman Al-Jami, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, dan selain mereka dari ulama yang telah meninggal di masa kita. Berikutnya Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, Asy-Syaikh Zaid Al-Madkhali, Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh, Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad, Asy-Syaikh Al-Ghudayyan, Asy-Syaikh Shalih Al- Luhaidan, Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Asy-Syaikh Shalih As-Suhaimi, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri dan selain mereka yang mengikuti langkah-langkah mereka di atas manhaj Salaf. (Makanatu Ahli Hadits karya Asy-Syaikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Wujub Irtibath bi Ulama).
Gudang Ilmu itu Bernama Masjid
Oleh karena itu, mari menanam ilmu itu dengan kembali ke kiblat pendidikan: MASJID. Jangan terlalu terkecoh dengan pendidikan selain ini. Saya yakin, suatu saat pendidikan semua kembali ke rumah Allah. Sudah saatnya, kita “menggeser” sekolah ke kiblat “Mosque Schooling”.

Sumber: Pojok Pendidikan

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...