Tampilkan postingan dengan label Visit Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Visit Aceh. Tampilkan semua postingan

21 April 2013

MELIHAT DAN MENGENAL GUNUNG SEULAWAH AGAM DI ACEH

Gunung Seulawah Agam. (Foto: Firman Hidayat)
Gunung Seulawah Agam adalah sebuah gunung yang terletak di Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Selain dikenal sebagai Seulawah Agam, gunung yang memiliki tinggi 1726 mdpl ini memiliki nama-nama lain seperti , Solawa Agam, Solawaik Agam, Selawad janten, dan Goldberg. Kawah Seulawah Agam dikenal sebagai Kawah Heutsz dan ada juga yang menyebut kawahnya sebagai Tanah Simpago. Gunung Seulawah Agam terbentuk akibat pertemuan lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke utara, menujam di bawah Lempeng Kerak Benua Eurasia. Akibat penujaman itu maka terjadi proses peleburan (melting) kerak Samudera Indo-Autralia menjadi magma, yang kemudian menerobos kepermukaan melewati zona lemah dan kemudian membentuk Gunung Seulawah Agam.
Pilar Seulawah Agam (Foto: Firman Hidayat)

Letak

Gunung Seulawah Agam terletak di Kec. Lembah Seulawah, Kab. Aceh Besar. Gunung Seulawah Agam merupakan salah satu gunung berapi tipe C di Provinsi Aceh, Pada tanggal 16 & 21 agustus 1975, terdengar suara gemuruh dan asap keluar dari Gunung Seulawah Agam (Sumber: Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi).
Keadaan hutan di Puncak Seulawah Agam (Foto: Firman Hidayat)

Deskripsi

Seulawah adalah nama gunung yang dikenal oleh masyarakat aceh dengan puncaknya Seulawah Agam dan Seulawah Dara dan juga sebagai Kawasan Penyangga Ekosistem Leuser, Kawasan ini memiliki luas lebih kurang 1,4 juta ha yang meliputi wilayah Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Besar, Pidie, Bireun dan Aceh Tengah. Kawasan Seulawah dengan suhu udara minimum 19-21 C dan maksimum 25-30 C dengan curah hujan yang berkisar 2.000 – 2.500 mm pertahun, dengan ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Dengan kondisi alam yang sejuk dan curah hujan yang tinggi maka didaerah tersebut banyak didapati bermacam jenis Flora dan fauna seperti : Gajah yang di kenal dengan legenda Pocut Meurahnya, rusa, harimau, beruang, kancil, babi hutan, tenggiling, Landak dan ular, juga terdapat berbagai macam jenis burung yang selalu menghiasi kawasan ini. Luasnya bukit yang terjal yang diselimuti oleh berbagai macam jenis kayu seperti meranti, copat, cemara, beramah, urip, deriam dan semantuk sehingga menjadi penyangga kehidupan bagi makhluk hidup di kawasan tersebut.
Kondisi hutan Seputaran Puncak Seulawah Agam (Foto: Firman Hidayat)
 
Sumber: 8D Productions

BENTENG INDRAPATRA, SEJARAH YANG TERLUPAKAN

BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.

Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.
 
Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.

Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.

Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.

Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.

Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.

Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.

Sumber: AtjehPost
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf
BENTENG merupakan situs sejarah yang mempunyai cerita tersendiri. Di belakangnya ada kisah perlawanan, pemberontakan, dan heroisme orang-orang di zamannya. Demikian juga dengan Benteng Indra Patra yang terletak di Kecamatan Masjid Raya, sekitar 19 km dari Banda Aceh, menuju Pelabuhan Krueng Raya. Benteng ini masih tetap berdiri kokoh meski telah dihantam tsunami.
Sebagai sebuah situs bersejarah, Benteng Indra Patra perlu dijaga. Dari segi fisik, secara alami bangunan akan mengalami kerusakan digerus alam. Hujan, panas, Dinding mengelupas, batu pondasi berjatuhan satu persatu. Lama kelamaan bentuk aslinya tidak kelihatan lagi.

Dilihat Dari sisi sejarah, kisah-kisah seputar keberadaan benteng perlahan-lahan akan dilupakan orang. Bahkan orang-orang yang tinggal sekitar benteng pun belum tentu tahu asal muasal dinding besar di hadapan rumah mereka.

Benteng Indrapatra ini dibangun pada masa kerajaan Lamuri, yaitu sebuah kerajaan hindu pertama di Aceh. Tepatnya pada abad ke tujuh masehi. Benteng ini dibangun pada posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan selat malaka. Disebabkan karena alasan keamanan serta pertahanan kerajaan tersebut.
Saat itu benteng Indrapatra ini dibangun dengan tujuan untuk membentengi serangan masyarakat Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal- kapal perang Portugis. Di samping itu, benteng ini juga dipakai sebagai tempat beribadah umat Hindu yang berada di Aceh saat itu.
Peranan dan fungsi dari benteng Indrapatra berlangsung hingga masa islam tiba di Aceh. Pada masa kerajaan Sultan Iskandar Muda dengan laksamananya yang sangat dikenal dan segani yaitu Laksamana Malahayati (laksamana Wanita pertama Di dunia) benteng ini dipergunakan sebagai benteng pertahanan bagi kerajaan Aceh Darusssalam dari serangan musuh yang berasal dari laut.
Hingga saat ini hanya tertinggal dua benteng yang masih berdiri kokoh. Benteng utamanya berukuran 70 x 70m, ketinggiannya mencapai 4 meter, serta ketebalan dinding sampai 2 meter. Benteng indapatra memiliki arsitektur yang unik, terbuat dari beton kapur ( susunan berasal dari batu gunug, sebagai perekat berasal dari campuran kapur, tanah liat, dan alusan kulit kerang, serta alat perekat lainnya.
Dalam benteng utama terdapat dua buah “stupa” atau bangunan yang menyerupai kubah dimana di dalamnya terdapat sumur sebagai tempat air bersih yang digunakan oleh umat hindu untuk penyucian diri dalam rangka peribadahan. Di samping itu, di dalam benteng juga terdapat bunker sebagai tempat penyimpanan meriam, peluru, dan senjata.
Di setiap sisi dinding benteng terdapat 11 lubang yang digunakan sebagai tempat pengintai musuh. Sebagai masyarakat yang menghargai sejarah sudah selayaknya benteng Indra Patra dirawat dan dilestarikan. Serta agendakan benteng Indapatra sebagai wisata sejarah anda. Karena sejatinya beragam sejarah terdapat di Aceh.
- See more at: http://atjehpost.com/read/2013/03/04/42377/0/39/Benteng-Indrapatra-sejarah-yang-terlupakan#sthash.kamaZcHB.dpuf

20 April 2013

MEUNASAH; LEMBAGA PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DI ACEH

Meunasah hanya ada di Aceh saja, berasal dari asal kata madrasah pada zaman tempo dulu. Menurut kisah orang-orang zaman yang memiliki ilmu tentang meunasah, ia awalnya berasal dari lembaga pendidikan yang dalam bahasa Arab disebut madrasah. Ketika Aceh menjadi bagian dari kemajuan pendidikan dan perkembangan sekolah sudah lebih maju, rumah sekolah didirikan lain oleh pemerintah dengan meninggalkan lembaga madrasah tadi berubah fungsi dan berganti nama menjadi meunasah. Dahulu meunasah selain berfungsi sebagai tempat ibadah, ia juga dijadikan sebagai rumah sekolah dengan gelar madrasah dan kini menjadi Meunasah.
Meunasah bisa saja sebutan bagi mushalla dalam bahasa Aceh. Sebenarnya, bila kita lihat dari segi ukurannya, meunasah mempunyai ukuran bangunan agak besar daripada mushalla pada umumnya. Namun, tidak lebih besar dari mesjid.

Keberadaan meunasah menandakan sebuah ‘pusat’ kebudayaan telah dibentuk dalam suatu komunitas. Karena meunasah di beberapa kampung di Aceh, tak hanya dipergunakan untuk kepentingan keagamaan saja (tempat ibadah). Meunasah bisa juga dipakai sebagai tempat berkumpul, musyawarah bagi warga untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kampung. Atau pada kasus tertentu seperti di beberapa kampung yang terkena bencana tsunami, meunasah sering juga dijadikan tempat/lokasi untuk membagikan bantuan logistik – sumbangan dari beberapa lembaga atau NGO untuk korban tsunami.

Begitu pentingnya keberadaan meunasah. Sehingga pembangunan meunasah itu terkadang menjadi prioritas pertama daripada fasilitas-fasilitas umum lainnya (seperti kantor desa, kantor pemuda, sekolahan, atau bahkan rumah tempat tinggal), sebagaimana yang terjadi di kampung Ujong Muloh ini.

Seperti halnya mesjid, meunasah juga memiliki kepengurusan sendiri dan dipimpin oleh seorang imeum meunasah. Imeum meunasah adalah seseorang yang dipilih atau ditunjuk untuk memimpin serta mempunyai tanggung jawab khususnya terhadap kegiatan-kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan di meunasah.

Sebagai pusat kebudayaan (dan juga keagamaan), meunasah mempunyai ‘posisi’ tersendiri dalam suatu komunitas. Di sini, karena hampir semua kegiatan kampung dipusatkan di meunasah, orang-orang cenderung normatif. Mereka yang jarang atau sama sekali tak pernah terlibat pada kegiatan-kegiatan di meunasah (entah itu kegiatan umum seperti musyawarah atau syukuran kampung, dan kegiatan keagamaan lainnya), cenderung dinilai kurang positif dan bahkan kurang dihargai.

Seorang warga pernah mengatakan, “Meski seseorang itu mempunyai pendidikan tinggi atau seorang PNS sekalipun, tapi kalau dia itu tak pernah pergi ke meunasah, maka apapun perkataannya tak akan didengar oleh orang lain.” Rupanya, pendidikan dan status yang disandang oleh seseorang di kampung ini tak begitu berpengaruh. Yang jelas, seseorang akan dipandang dan relatif dihargai bilamana ia sering terlihat ke meunasah terutama aktif pada kegiatan-kegiatan keagamaan. 

Sumber: WarisanBudaya, GampongLon

BUDAYA NGOPI DI ACEH DAN MINUM BIR DI JERMAN

KOPI sejatinya ditemukan oleh bangsa Etiopia, yang pada zaman itu menggunakan biji kopi sebagai suplemen penambah tenaga yang dicampur dengan lemak hewan ataupun anggur, dipercaya dapat memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh.
 
Kata kopi sendiri berasal dari bahasa arab Qahwah, yang berarti kekuatan. Kata qahwah diadaptasi ke dalam bahasa Turki menjadi Kahfeh. Yang kemudian dibawa ke Eropa oleh bangsa Belanda dan berubah nama menjadi Koffie, kata yang banyak disadur ke dalam berbagai bahasa di dunia seperti Coffe (Inggris), Kaffe (Jerman), dan Kopi (Indonesia).

Secara umum kopi terbagi menjadi dua, Arabika yang merupakan kualitas paling baik, dan Robusta. Selain itu terdapat juga Kopi Luwak, yang sering disebut-sebut sebagai kopi dengan kualitas tertinggi, karena diperoleh dengan susah payah. Itu pun harus menunggu beberapa hari untuk menghasilkan hanya beberapa biji kopi yang konon katanya berasal dari (maaf) kotoran Luwak (sejenis musang). Tentu saja hal ini menjadikan kopi luwak menjadi kopi termahal, dan hanya segelintir orang yang beruntung saja yang pernah menikmati kopi jenis ini.

Berbangga hatilah Aceh dimana Kopi Gayo, yang berasal dari dataran tinggi tanah Gayo merupakan salah satu varietas kopi Arabika berkualitas tinggi. Bahkan di disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia. Hal ini yang menyebabkan kopi sangat identik dengan orang-orang Aceh. 7 dari 10 orang pria di Aceh adalah peminum kopi, walaupun bukan pecandu berat. Belum lagi kalau kita berbicara mengenai warung kopi. Sebelum terjadinya Tsunami saja warung kopi sudah menjamur di seluruh daerah Aceh, baik di pelosok desa maupun di kota besar khususnya kota Banda Aceh. Hal ini yang saya rasakan sewaktu menjadi penduduk aceh kurun waktu 2001-2002. 

Bagi kami anak muda Aceh, tiada sah satu hari itu berlalu tanpa disertai dengan aktifitas nongkrong di warung kopi. Aktifitas ini bahkan bisa menyita waktu sampai 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam. Pagi hari pun, sebelum memulai aktifitas baik itu kuliah ataupun pergi kerja, masih disempat-sempatkan untuk singgah sebentar ke warung kopi. Hanya untuk bisa merasakan hangatnya seruput kopi di pagi hari yang dingin.

Pengalaman saya pada waktu itu merasakan betapa kuatnya daya tarik warung kopi sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian besar pria di Aceh. Sebagai mahasiswa tingkat satu pada waktu itu, warung kopi bukan hanya tempat untuk menikmati secangkir kopi, namun juga sebagai wadah anak-anak muda Aceh berkumpul dan saling bersilaturahmi. Pulang kuliah siang hari, sudah menjadi rutinitas kami untuk ngumpul-ngumpul di warung kopi untuk melepas penat sesaat dan lari dari padatnya jadwal kuliah yang sudah menguras tenaga dan pikiran. Tempat yang menjadi favorit pada waktu itu dimana lagi kalau bukan di Ulee Kareng, yang terkenal dengan kopi Ulee Karengnya bukan hanya dikenal oleh orang-orang Aceh, namun juga turis-turis mancanegara yang sama-sama sebagai pecinta kopi. 

Sebut saja nama-nama Cafe Flamboyan, Terapung, dan Solong. Semua anak muda kota Banda Aceh pasti pernah menikmati kopi di situ. Aktifitas itu kadang kami ulangi lagi di malam harinya di saat pikiran perlu di-refresh akibat pusing sehabis belajar, atau cuma karena suntuk tak ada kerjaan di rumah. Karena kemana lagi kami harus mencari pelampiasan kesenangan, di tempat dimana tidak adanya tempat hiburan semacam mall, apalagi klab malam. Tapi untunglah, karena tanpa adanya tempat-tempat sejenis itu, kami masih bisa menjaga akidah kami menjadi seperti sekarang.

Saya pernah baca sebuah cerita di salah satu artikel mengenai kebiasaan orang Aceh untuk duduk berlama-lama di warung kopi. Saya rasa sangat tepat menunjukkan kondisi “sosial” pria-pria Aceh pecinta warung kopi. Ceritanya tentang seorang suami yang setiap hari menghabiskan waktunya semalaman di warung kopi. Hanya dengan bermodalkan secangkir kecil kopi, ia bisa duduk tiap sepulang kerja dari jam 7 sampai jam 11 malam. Setiap malam. Sampai-sampai istrinya tak habis pikir. 

Padahal setiap malam ia juga menyajikan kopi ke suaminya, tapi tetap saja sang suami keluar setiap malamnya. Dengan alasan kopi yang dijual di warung lebih enak terasa di lidah. Diam-diam si istri membeli bubuk kopi yang sama seperti yang dijual di warung kopi tersebut, dan menyajikan ke suaminya keesokan malam. Namun apa lacur, si suami tetap berkata bahwa kopi yang dijual di warung terasa lebih nikmat. Jadi apa sebenarnya daya tarik warung kopi di Aceh?

Budaya kumpul-kumpul itu yang sebenarnya menjadi inti dari budaya ngopi masyarakat Aceh. Memang kualitas kopi tetap berpengaruh, tapi hal itu sama sekali bukan satu-satunya indikator larisnya suatu warung kopi di Aceh. Teman sewaktu minum kopi lah yang menjadi faktor kunci dari kenikmatan menghabiskan waktu berjam-jam di warkop (istilah mereka). Tak masalah mau di warung gubuk kecil, maupun di cafe sekelas international, yang penting dengan siapa mereka menghabiskan waktu bersama. 

Fenomena ini menunjukkan hal yang positif, setidaknya bagi saya. Dimana saya melihat orang Aceh terbukti sangat senang bersilaturahmi, berkumpul dengan sesamanya. Meskipun hanya untuk membicarakan omongan-omongan ringan yang tak berbobot dan cenderung penuh khayalan (cat langet istilah orang Aceh, atau kombur istilah orang Medan). Kalau tidak percaya, lihatlah warung kopi yang terletak di sudut persimpangan tujuh jalan Ulee Kareng. 

Mulai dari pejabat dengan mobil-mobil mewah terparkir di depan warung sampai mahasiswa dengan motor-motor bebek terparkir di halaman belakang. Hal yang dibicarakan juga beragam, dari soal politik negara yang carut marut, harga bensin yang terus naik, tender proyek, sampai masalah bagaimana mendapatkan hati sang gadis pujaan.

Pengalaman itu yang saya rasakan kembali ketika saya menginjakkan kaki di tanah Jerman ini. Perasaan seolah bagaikan de javu dimana sewaktu saya melihat pemandangan puluhan orang Jerman tua dan muda (mayoritas pria) duduk dalam sebuah warung minum dan menikmati segelas besar bir. Ya, bir memang, bukan kopi. Tetapi dengan atmosfer yang sama dengan yang saya rasakan ketika di Aceh dulu. Hanya jenis minuman yang disajikan saja yang berbeda. Hampir di setiap sudut jalan di semua kota di Jerman bisa ditemukan warung bir. 

Hal yang sama terjadi di Aceh dengan warung kopinya. Ketika saya bertanya ke salah seorang teman Jerman saya, hal apa yang menarik dari acara kumpul-kumpul dan menikmati segelas bir itu? “Well, bukan rasa bir nya yang membuat kami enjoy,” jawabnya. “Kami bisa saja menikmati bir di rumah. Tetapi berkumpul bersama kerabat dan teman-teman lah yang membuat kami sangat menikmati saat-saat itu”, tambahnya. Wow, hal yang sama yang saya rasakan ketika di Aceh, pikir saya.

Bukan maksud saya untuk menyamakan budaya minum bir dengan budaya minum kopi. Saya tau bir haram bagi agama Islam. Namun hal itu (bir) merupakan hal yang lumrah dan sangat lazim ditemukan di Jerman. Sama halnya dengan kopi di Aceh. Biarlah mereka hidup dengan agama dan keyakinannya, tak usahlah kita permasalahkan. Yang mau saya ulas di sini adalah kesamaan tingkah yang membuat saya amazed. Bahwasanya orang barat yang biasanya terkenal sangat individualis, ternyata di belahan Eropa sini masih juga menjunjung budaya silaturahmi, saling menjaga persaudaraan. 

Seperti halnya pengalaman saya ketika mengunjungi Volkfest (mirip seperti Oktoberfest) lalu, dimana dalam satu area luas terdapat beberapa warung minum bagaikan hangar pesawat yang didalamnya dapat menampung sampai 100 orang. Didalamnya lah berkumpul orang-orang Jerman menikmati bir sambil berbincang-bincang dengan kerabatnya. Tidak ada gap antara si kaya dan si miskin, semuanya sama di dalam situ. Mulai dari pengusaha berjas sampai petani dengan jeans belelnya duduk di satu meja mengobrol seru. Inilah orang Jerman, batin saya.

Saya yakin, tidak semua hal yang berhubungan dengan budaya barat bisa kita justifikasikan negatif. Dari apa yang saya alami selama di Jerman ini bisa menjadi bukti konkret bahwa masih ada hal-hal positif lainnya yang bisa kita pelajari dari budaya barat. Bukan ajakan untuk minum bir tentunya. Buang jauh-jauh pikiran itu. Petiklah hal-hal yang baik kemudian buanglah hal-hal yang buruk.


Oleh: Teuku Furqan, mahasiswa Aceh di Jerman
Sumber: ACW, FokusAceh

SENSASI KULINER KHAS ACEH

Aceh terkenal dengan kulinernya yang sangat kental dengan khas Timur Tengah dan India, karena bumbunya yang kaya akan rempah yang dicampurkan, sehingga rasanya kental dan bahkan pedas. 

Beberapa Makanan dan Minuman yang khas di Aceh di antaranya yakni Timphan, Martabak Aceh, Mi Aceh, Kue Karah, Kue Boi, dan Ayam Tangkap.

Timphan adalah kue khas Aceh yang biasanya isinya kelapa dan srikaya, asoe kaya,dan dibungkus oleh daun pisang. Timphan sangat terkenal di Aceh serta menjadi kue yang wajib dihidangkan pada perayaan hari besar terutama pada Idul Adha dan Idul Fitri. Setiap rumah penduduk, dari yang kaya hingga miskin, dari masyarakat kota hingga desa, pasti menghidangkan kue yang satu ini. Fenomena yang menarik adalah hampir semua ibu-ibu atau wanita Aceh bisa membuatnya. Saking terkenalnya Timphan ini di Aceh, sehingga banyak ungkapan/pribahasa dengan kata Timphan diantaranya yaitu "Uroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasa" (Hari baik bulan baik Timphan ibu buat harus dapat kurasakan). Saat ini, tidak hanya di Aceh, timphan juga sudah terkenal hingga ke luar Aceh. Banyak ditemukan timphan di restoran-restoran Aceh di pulau Jawa. 

Thimpan adalah kue istimewa dalam kehidupan masyarakat Aceh, khususnya di Sigli, Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Bireun, dan lainnya setiap Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. 

Biasanya thimpan untuk lebaran dimasak pada malam terakhir puasa atau malam takbiran pertama oleh para ibu dibantu remaja puteri di daerah-daerah tersebut. Di luar lebaran, para ibu di sana kurang tertarik membuat thimpan sendiri. Mereka yang ingin makan kue itu biasanya membeli di toko-toko roti, kendati rasanya berbeda bila membuat sendiri.
Timphan merupakan kue dan hidangan khas Aceh pada acara-acara penting di dalam kebudayaan Aceh. Timphan sering dibuat khusus untuk hari lebaran, pesta pernikahan yang merupakan hidangan pembuka utama bagi tamu yang hadir pada khanduri dalam kebudayaan Aceh. 

Bahan baku thimpan terdiri atas tepung ketan, pisang raja, gula, telur ayam kampung, kelapa, minyak goreng, dan pucuk daun pisang sebagai pembungkus. Kendati harga telur ayam kampung lebih mahal, para ibu di sana lebih memilih menggunakannya dibanding telur ayam buras. Karena rasanya jauh lebih enak. 

Buat orang-orang kampung dan juga warga di Serambi Mekkah, thimpan menjadi kue spesial lebaran yang tetap dipertahankan meskipun bahan bakunya semakin mahal. Tanpa thimpan srikaya ataupun kelapa pada hari raya, lebaran terasa kurang lengkap meskipun sudah ada aneka penganan lain. 

Thimpan yang biasanya ditempatkan di nampan lebar atau piring-piring ceper, menjadi kue utama untuk menjamu tamu lebaran. Bagi menantu, thimpan seolah menjadi hantaran wajib ke rumah mertua saat berlebaran. Bila sudah begini, rasanya tak berlebihan bila banyak orang yang bilang thimpan itu kue Aceh paling istimewa untuk lebaran. 

Lain lagi dengan Martabak Aceh. Martabak ini sekilas terlihat mirip dengan telur dadar biasa. Pembuatannya sedikit berbeda dari martabak telur pada umumnya, karena kocokan telur membungkus kulit martabaknya. 

Pembuatan martabak ini diawali dengan menggoreng kulit martabaknya terlebih dahulu dan dibentuk segi empat, mirip dengan pembuatan roti canai. Kemudian dilumuri dengan kocokan telur yang telah dicampur dengan rajangan bawang merah dan daun bawang. Tahap berikutnya digoreng seperti layaknya membuat dadar atau omelet, dengan kulit martabak yang berbentuk roti canai segi empat tadi sebagai intinya. Sebagai pelengkap rasa, martabak Aceh disajikan dengan acar bawang dan cabe rawit. Martabak Aceh cukup terkenal di luar Aceh. Bahkan di luar daerah Aceh martabak ini dimodifikasikan dengan menggunakan gulai daging yang berbumbu kari. 

Bagaimana dengan Mi Aceh? Cita rasa dari Mie Aceh berbeda dengan mie yang ada di daerah Indonesia lainnya. Mie Aceh biasanya disajikan dengan daging sapi, kepiting, ataupun udang. Mie Aceh juga lebih banyak menggunakan bumbu dan cabai sehingga rasanya sangat lezat dan pedas. Mie Aceh bisa digoreng ataupun direbus, sesuai dengan selera pembeli. Mie kepiting merupakan salah satu mie yang selalu dicari oleh wisatawan yang datang dari luar daerah dan juga sangat digemari oleh masyarakat lokal. Aromanya yang menggoda, memberikan nuansa kenikmatan didalam penyajiannya. Mie Aceh mudah dikenal dan banyak digemari oleh para penggemar kuliner di nusantara. Bahkan banyak wisatawan mancanegara yang mulai menggemari kuliner ini. Disamping rasanya yang lezat dan berbau timur tengah, mie aceh juga tak lepas dari rasa nuansa erofa dan cina. Benar-benar mie yang sangat sensasional dan yummy. Jika anda ingin menikmati kuliner yang benar-benar bernuansa universal,maka jangan lupa anda untuk mencoba jajanan ini. Dijamin anda tidak akan pernah kecewa.

Ada lagi yang namanya Kue Karah/ Keukarah, yakni sejenis penganan yang cukup populer dikalangan masyarakat Aceh terbuat dari tepung beras, berbentuk segitiga--sering juga berbentuk lipat dua-. Masyarakat Aceh menjadikan kue ini juga sebagai bagian dari adat dan upacara-upacara tradisional, khususnya di Aceh Barat, pada upacara pernikahan dan juga acara-acara kematian. Misal di Khanduri Peuet Ploeh. Namun, kue ini juga dikenal akrab oleh masyarakat di beberapa kabupaten lainnya di Aceh.

Kue berikutnya adalah Kue Boi, adalah penganan khas Aceh Besar yang dikenal luas oleh masyarakat Aceh. Bentuk kue ini sangat bervariasi, seperti; bentuk ikan, bintang, bunga, dan lain-lain. Kue Boi ini dapat menjadikan salah satu buah tangan ketika akan berkunjung ke sanak saudara atau tetangga yang mengadakan hajatan atau pesta, seperti sunatan dan kelahiran. Kue Boi juga dijadikan sebagai salah satu isi dari bingkisan seserahan yang dibawa oleh calon pengantin pria untuk calon pengantin perempuan pada saat acara pernikahan. 

Kue Boi sendiri biasanya diperoleh di pasar-pasar tradisional ataupun dipesan langsung pada pembuatnya. Proses pembuatan kue Boi ini pun tergolong sedikit rumit. Pasalnya, tidak semua orang bisa membuat kuliner ini dan dibutuhkan kesabaran serta keuletan.

Kuliner Aceh lain adalah Ayam Tangkap, yang sangat terkenal di Aceh. Sajian makanan yang satu ini amat menarik, yaitu ayam berbumbu yang digoreng bersama daun rempah-rempah yang beraroma harum dan menggugah selera. Cara membuatnya yaitu ayamnya dipotong kecil-kecil (sebesar ibu jari) kemudian digoreng kering, kemudian disajikan dengan daun temburu dan cabe hijau yang juga digoreng kering. Walaupun bentuknya daun, karena digoreng kering maka daun temburu ini menjadi gurih seperti keripik. Rasanya tidak berbeda dengan ayam goreng biasa, namun dengan sajian keripik daun dan cabe hijau goreng ini menimbulkan sedikit cita rasa yang berbeda.

Abad XVII, seorang berkebangsaan Belanda membawa kopi arabika ke Batavia, kini Jakarta. Lambat laun, ketika Belanda menguasai Aceh, kopi itu sampai juga ke ujung utara Pulau Sumatra dengan jenis yang makin beragam.


Tumbuh dari tanah Nanggroe yang subur, dipadu cuaca yang mendukung, menjadikan tanaman kopi Aceh berkembang menjadi komoditas yang bermutu dan tentu menguntungkan. Apalagi kemudian, prosesnya sejak penggilingan hingga disaring menjadi secangkir minuman dengan cara yang khas, kopi Aceh menjelma sebagai ikon.

Aroma kopi Aceh sudah sejak lama terkenal di Indonesia, mungkin pula di dunia. Aceh adalah salah satu penghasil kopi terbesar di negeri kepulauan ini. Tanah Aceh menghasilkan sekitar 40 % biji kopi jenis Arabica tingkat premium dari total panen kopi di Indonesia. Dan Indonesia merupakan pengekspor biji kopi terbesar keempat di dunia. Memang kedahsyatan kopi Aceh ini sudah melegenda bahkan pasca tsunami, kopi Aceh semakin mendunia berkat banyaknya penikmat kopi dari para pekerja internasional yang datang untuk merekonstruksi Aceh.

Biji kopi terbaik di Aceh umumnya berasal dari Lamno. Biji kopi Aceh biasanya di-oven selama 4 jam untuk menghasilkan mutu terbaik. Setelah mencapai kematangan 80 % barulah dimasukkan gula dan mentega. Kemudian biji kopi yang telah masak digiling sampai halus. Yang khas dari Kopi Aceh adalah aromanya yang kuat, cita rasanya yang bersih dan tidak asam, serta efeknya yang mantap!
Yang membuat kopi Aceh lebih menarik adalah cara penyajiannya yang khas, dan sedikit berbeda dengan cara penyajian di warung-warung kopi di wilayah lain di Indonesia. Kopi diseduh, dan seduhan kopi disaring berulang kali dengan saringan dari kain yang bentuknya mirip kaus kaki, lalu menuangkan kopi itu berpindah-pindah dari satu ceret ke ceret yang lain. Hasilnya adalah kopi yang sangat pekat, harum, tetapi tidak mengandung bubuk kopi karena sudah tersaring di dalam "kaus kaki" tadi. Berbeda dengan kopi hitam di banyak daerah lain yang masih menyisakan ampasnya.

Menikmati kopi Aceh bukan hanya menikmati rasanya, tetapi juga tradisi budaya. Di Aceh, kedai kopi merupakan tempat berkumpul, bertemu dan membicarakan segala topik. Bagi orang Aceh mengunjungi kedai kopi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktifitas sehari-hari. Sambil menikmati kopi, mereka bersosialisasi dan menjalin silaturahmi. "Semua masalah pasti bisa selesai di warung kopi," begitu kata orang Aceh.

19 April 2013

10 TEMPAT WISATA DI BANDA ACEH

Kadang-kadang sulit mencari obyek wisata kota. Tapi tidak begitu jika datang ke Banda Aceh. Sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, banyak sekali yang bisa dikunjungi di kota ini. Pelancong yang berkunjung ke sini dapat menikmati aneka obyek wisata Mulai dari wisata sejarah, wisata spiritual,  wisata kuliner, hingga kegiatan wisata untuk merenungi kekuatan alam sekaligus mempelajari fenomena tsunami sebagai sebuah pengetahuan.

Berikut 10 tempat yang hatus dikunjungi ketika melancong ke Banda Aceh:

1. Mesjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh populer di kalangan pewisata sejarah atau pewisata kota. Ia pernah menjadi pusat pertahanan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda. Mesjid ini pun menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri saat bangunan lain bersih disapu gelombang  tsunami pada Desember 2004. 

Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh. Dibangun pada tahun 1022 H/1612 M di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh.
2. Taman Sari Gunongan
Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636.Bangunan ini disebut-sebut sebagai simbol dari cinta Sultan Iskandar Muda kepada permaisurinya, Putri Phang yang berasal dari Pahang, Malaysia. 

Dikisahkan sang permaisuri mengalami kesedihan dan rindu pada kampung halaman di tengah kesibukan sang suami sebagai kepala pemerintahan. Untuk menghibur permaisurinya, Sultan Iskandar Muda membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. 

Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana. Brakel (1975) melukiskan dalam Bustan, gunongan ini dikenal sebagai gegunungan dari kata Melayu gunung dengan menambahkan akhiran ‘an’ yang melahirkan arti “bangunan seperti gunung” atau “simbol gunung”. Jadi gunongan adalah simbol gunung yang merupakan bagian dari taman-taman istana Kesultanan Aceh.

3. Kerkhof
Kerkhof Peutjeut terletak di Jalan Teuku Umar. Letaknya berseberangan dengan Gunongan. 

tempat ini merupakan kompleks pekuburan militer Belanda terluas di dunia. Lebih 2200 serdadu dan pasukan sipil Belanda yang gugur dalam Perang Aceh dikuburkan di sini. 

Kherkhoff  dibangun tahun 1880. Tempat ini jadi kuburan resmi Belanda sejak Perang Aceh meletus pada Maret 1873. Ketika bencana tsunami menyapu Banda Aceh pada Desember 2004, kerkhof sempat terendam air dan dibenamkan lumpur. namun kini, kompleks makam ini telah bersih dan terawat baik. 

4. Pinto Khop

Bangunan bersejarah yang terletak di pusat kota banda Aceh ini merupakan pintu penghubung antara Istana dan Taman Putroe Phang. Pinto khop dibangun pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda. 

Wujudnya berupa pintu gerbang yang berbentuk kubah.Selain sebagai penghubung, konon Pinto khop juga menjadi tempat beristirahat putroe phang setelah lelah berenang di kolam yang ada di gunongan. Letaknya memang dekat dengan gunongan. Di sanalah dayang-dayang membasuh rambut sang permaisuri,di sana juga terdapat kolam untuk sang permaisuri mandi bunga.

5. Makam Sultan Iskandar Muda
Urutan pertama hingga empat, menyinggung nama Sultan Iskandar Muda. Sang Sultan Sendiri dimakamkan di kota Banda Aceh. Makamnya menjadi salah satu tempat sejarah yang ramai dikunjungi wisatawan. 

Pengunjung yang berziarah ke makam ini, dapat mengenang betapa sang sultan merupakan tokoh penting dalam sejarah kesultanan Aceh. Kerajaan Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1607-1636. Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Islam Aceh menduduki peringkat kelima kerajaan Islam terbesar di dunia.

6. Masjid Baiturrahim Ulee Lheue

Masjid Baiturrahim adalah masjid bersejarah peninggalan Sultan Aceh pada abad ke-17. Dahulu, masjid tersebut bernama Masjid Jami’ Ulee Lheu. Pada 1873 ketika Masjid Raya Baiturrahman dibakar Belanda, semua jamaah masjid terpaksa melakukan salat Jumat di Ulee Lheue. Dan sejak saat itu namanya menjadi Masjid Baiturrahim. 

Terjangan tsunami pada 26 Desember 2004 silam meratakan seluruh bangunan di pesisir Ulee Lheu, Banda Aceh. Dan Masjid Baiturrahim menjadi satu-satunya bangunan yang tetap berdiri di kawasan pesisir tersebut meski tersapu Tsunami dan hanya mengalami kerusakan sekitar 20 persen. Karenanya masyarakat Aceh sangat mengaguminya, dan para pelancong menjadikannya sebagai salah satu tujuan wisata spiritual. 

7. Museum Aceh
Bangunan utama museum ini berupa rumah tradisional aceh atau Rumoh Aceh. Rumah ini memiliki sejara tersendiri, yakni merupakan rumah yang dibangun semasa Pameran Kolonial (1914) di Semarang. Pada saat pameran tersebut, rumah tradisional ini berhasil menyabet penghargaan paviliun terbaik.

Seluruh bangunan kemudian diboyong ke Banda Aceh dan diresmikan sebagai Atjeh Museum pada tanggal 31 Juli 1915. Dengan demikian menempatkannya sebagai salah satu museum bersejarah panjang di Bumi Nusantara.


8. Museum Tsunami
Obyek wisata ini merupakan sebuah museum baru yang khusus dibangun untuk mengenang gempa bumi Samudra Hindia 2004. Keberadaanya juga sekaligus menjadi pusat pendidikan dan tempat perlindungan dari tsunami.

Museum yang dirancang oleh arsitek Indonesia Ridwan Kamil ini menampilkan simulasi elektronik gempa bumi Samudra Hindia 2004, foto-foto korban, dan kisah dari korban selamat.


9. Kapal Di Atas Rumah Lampulo

Kapal Di Atas Rumah di Lampulo adalah salah satu dari dari kapal-kapal yang terdampar kedaratan pada saat terjadi bencana Tsunami yang melanda Banda Aceh pada Desember 2004. Gelombang tsunami membawa kapal ini ke daratan hingga terdampar di atas rumah penduduk di kawasan Gampong Lampulo Kecamatan Kuta Alam.

Pemerintah Kota Banda Aceh mempertahankan keberadaan kapal ini hingga sekarang. Menjadi monumen untuk mengingat peristiwa tersebut. Kini situs peringatan tsunami dalam wujud kapal ini menjadi satu tujuan wisata oleh para pelancong yang ingin mengenang kedahsyatan maha-bencana tsunami beberapa tahun silam.


10. Kapal PLTD Apung
Kapal PLTD Apung ini memiliki bobot 2.600 ton. Ukuran panjangnya 63 meter dan luas 1.900 M2. Bisa dibayangkan bisa dibayangkan beban dan besarnya kapal.

Ketika gelombang tsunami menyapu Banda Aceh pada Desember 2004, gelombang tsunami menghempaskan banyak kapal dari lautan ke darat. Salah satunya adalah kapal PLTD apung. Kapal ini terlempar sejauh 3 m dari pantai.

Kapal ini menjadi satu monumen untuk mengenang maha-bencana tsunami Aceh. Sekaligus untuk mengingatkan manusia, betapa kuatnya kuasa Allah.

WISATA GERILYA, JELAJAHI RUTE BASIS GERILYAWAN GAM

Ini adalah wisata menyusuri rute gerilyawan GAM saat Aceh masih dalam suasana konflik bersenjata. Dipandu langsung mantan gerilyawan.
SEBELUM Perjanjian Helsinki ditandatangani, 15 Agustus 2005, bumi Serambi Mekkah mungkin salah satu wilayah konflik yang jarang dimasuki wisatawan. Delapan tahun setelah damai itu diraih, dalam rangka Visit Aceh Year 2013, Aceh siap menjadi magnet bagi penikmat wisata alam dan sejarah.

Hutan dan gunung di wilayah Aceh yang dulu menjadi tempat persembunyian para gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) kini beralih fungsi menjadi area rekreasi yang menawarkan sensasi petualangan. Bahkan, kegiatan outbound yang disebut Wisata Gerilya ini dipandu langsung oleh para mantan gerilyawan GAM yang sempat menjadi bagian dari konflik Aceh-RI selama lebih dari 29 tahun.

Kurang lebih 8 tahun telah berlalu bagi mantan panglima GAM operasi wilayah Lhoong, Jen dan rekan-rekannya berjuang untuk kemerdekaan Aceh. Selama 4 tahun ia bersembunyi di hutan di seputar wilayah Lhoong-Aceh Besar, bersama 60 anggota GAM lainnya. 

Setelah perjanjian perdamaian di tahun 2005, 40 anggota GAM yang bertahan, meninggalkan hutan tempat persembunyian mereka untuk kembali berkumpul dengan sanak saudara.
Mahasiswa Akademi Pariwisata Medan ikut tour wisata gerilya | @Dokumen Aceh Explorer Adventure Tours
Foto: @Dokumen Aceh Explorer Adventure Tours | img: atjehpost
Menapak kaki mendaki pegunungan di Lhoong, mengingatkan kembali Jen pada masa-masa perjuangannya dulu, meskipun jalur yang ia telusuri masih tetap sama namun bedanya kini ia tidak lagi membawa senjata. 

Kini Jen dan teman seperjuangannya telah memiliki profesi baru; Pemandu Wisata. Pendakian gunung dan kemampuan penyelamatan yang pernah menolongnya dalam pengejaran aparat keamanan (TNI/POLRI) sekarang telah menjadi potensi untuk bergandengan tangan membawa wisatawan ke dalam hutan yang sama untuk menikmati keindahan pegunungan beserta flora dan fauna di dalamnya di Lhoong di bawah payung Aceh Explorer Adventure Tours.

Aceh Explorer, sebagai pencetus paket wisata gerilya, mempunyai alasan yang kuat mengapa memilih mantan pejuang GAM dan korban konflik sebagai pemandu wisata, mereka memiliki banyak keahlian yang dibutuhkan sebagai seorang pemandu, misalnya; kepemimpinan, disiplin, dan kerja tim serta teknik penyelamatan diri di hutan. 
Menuruni tebing curam di Pudeng, Lhoong, Aceh Besar | Foto: @Dokumen Aceh Explorer Adventure Tours
Menuruni tebing curam di Pudeng, Lhoong, Aceh Besar | Foto: @Dokumen
Aceh Explorer Adventure Tours
Karena mereka telah merasakan kehidupan yang keras di hutan selama bertahun-tahun, maka pasti bisa mengharapkan mereka untuk menjadi pemandu menyusuri hutan. Secara langsung mereka mengetahui setiap rute yang ada di wilayah di mana mereka pernah aktif sebagai kombatan.

Beberapa tahun lalu, mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, tersenyum mendengar usulan unik menjadikan bekas markas GAM sebagai kawasan wisata. Namun mengingat potensi ekowisata yang ada di Aceh dan penyediaan lapangan pekerjaan bagi putra daerah maka surat rekomendasi pun diberikannya untuk memulai program paket Wisata Gerilya tersebut. 

Bermodalkan surat rekomendasi tersebut, Aceh Explorer memulai programnya dengan mengunjungi beberapa kampung dan dengan cepat berhasil mengajak 15 mantan kombatan. Hingga kini telah bergabung sekitar 50 pemandu wisata di dalam Aceh Explorer dan sebagian besar adalah mantan pejuang GAM. Pada bulan Agustus 2012 Gubernur baru Zaini Abdullah juga telah memperbaharui surat rekomendasi tersebut demi kelancaran dan kelanjutan pelaksanaan program Wisata Gerilya.

Unik
Wisata gerilya merupakan hal baru yang unik yang di Indonesia hanya dapat ditemukan di Aceh. Oleh karena itu Aceh Explorer telah mengembangkan Wisata Gerilya di lokasi-lokasi tertentu di Aceh.

Meski mengalami luka dan pilu, para mantan pengikut GAM seperti Dede dan Doen tidak menyimpan dendam. ”Kami telah mengubur masa lalu kami. Kami bersyukur kedamaian di Tanah Rencong telah tercipta. Kami berharap Wisata Gerilya yang menjadi mata pencaharian kami sekarang bisa berkembang,“ kata Juni.
Minum dari dari akar pohon di Pucok Krueng, Aceh Besar | Foto: @Dokumen Aceh Explorer Adventure Tours
Minum dari dari akar pohon di Pucok Krueng, Aceh Besar
| Foto: @Dokumen Aceh Explorer Adventure Tours | img:atjehpost
Aceh Explorer Adventure Tours sangat optimis bahwa Wisata Gerilya di Aceh akan berkembang pesat layaknya di Vietnam. Dukungan dari pemerintah daerah dan pusat adalah modal utama dalam upaya mengembangkan konsep Wisata Gerilya. Dimulai oleh Reuters di tahun 2008, bagaikan gelindingan bola salju, puluhan media internasional lain juga telah berminat untuk mengikuti dan telah meliput paket wisata ini.

Promosi terus berlanjut melalui jejaring sosial (lihat: Facebook Jelajah Aceh), yang memperlihatkan banyaknya minat pengunjung dan tanggapan positif terhadap tour Wisata Gerilya yang telah berjalan 5 tahun dan berkembang ke beberapa lokasi di Aceh. Aceh juga telah menjadi contoh bagi negara lain yang juga sedang dalam masa pulih dari konflik seperti El Savador yang memulai Wisata Gerilya di tahun 2009 dan Nepal di tahun 2012.

Wisata Gerilya di beberapa wilayah di Aceh tidak kalah menarik dibanding wisata pantai Aceh atau scuba diving yang sudah terlebih dahulu terkenal. Potensi alam Aceh sangat mendukung Wisata Gerilya, selama dipahami secara positif, Wisata Gerilya tidak akan berkesan negatif. 
Dokumen Aceh Explorer Adventure Tours | Mantan GAM memandu wisatwan asing
Poin penting dari konsep Wisata Gerilya adalah pemberdayaan bagi ribuan mantan anggota GAM yang membutuhkan lapangan pekerjaan dan masih sulit mencari pekerjaan.

Menjadi pemandu wisata akan menjadi salah satu jalan keluar karena mereka melakukannya dengan baik dan sesuai dengan keahlian mereka. Perubahan profesi mantan anggota GAM menjadi pemandu Wisata Gerilya, justru akan membuka lebih banyak lapangan kerja baru di wilayah mereka. Sebab, penyediaan lapangan pekerjaan baru di Aceh masih relatif sulit, sementara jumlah mantan anggota GAM di Aceh sekitar puluhan ribu orang.

Riel (26), salah satu pemandu yang juga mantan prajurit GAM, mengaku senang menjalankan profesi barunya. "Saya tak punya banyak kepandaian, yang paling saya tahu adalah hutan," kata pria asal Aceh Besar itu.

Jen adalah mantan kombatan sebagai Panglima GAM yang beroperasi di wilayah Lhoong merupakan orang yang pertama bergabung dalam tim Aceh Explorer sebagai pemandu wisata. “Pasti kita terbayang pada kisah masa lalu…itulah kehidupan dan sejarah kita. 
John Penny, mantan Kepala Uni Eropa di Banda Aceh ikut tour | Foto: @Dokumen
Aceh Explorer Adventure Tours
Suatu hal yang sangat susah dilakukan di gunung. Saya lebih suka pekerjaan saya yang sekarang ini karena tidak ada percekcokan. Dan saya bangga sekali memperlihatkan kekayaan hutan kita. Saya mengharapkan agar dapat melakukan hal ini lebih sering lagi karena saya suka berada di hutan liar. Hal itu sudah pasti lebih baik dari pada duduk di rumah tidak melakukan apa-apa”, ujarnya.

Demikian pula dengan para pemandu lainnya yang kelihatan lebih senang dengan perubahan dari pejuang menjadi pemandu wisata.

“Bagi saya ini bukan merupakan hal yang aneh, karena merupakan pekerjaan yang baik. Saya sendiri senang sekali dapat bekerja bersama dengan teman-teman sebagai pemandu wisata” ujar Juni.

Mulai kini, di tengah suasana Aceh yang damai, semakin banyak mantan tentara memandu pelancong menyambangi bekas markas persembunyiannya ketika konflik berlangsung. 

Bagi para pecinta petualangan, Wisata Gerilya menjadi pilihan menarik karena tantangan yang ditawarkan relatif menguji adrenalin. Tim Aceh Explorer selalu memberi yang terbaik untuk mendapatkan kesan menarik dan banyak wisatawan akan berucap; Loen gisa lom u Aceh (saya akan kembali ke Aceh).

Jika memang Anda seorang petualang sejati, Anda harus mencicipi pertualangan yang satu ini.
____________________
Mendel John Pols alias Nurdin Hidayat, adalah pendiri Aceh Explorer Adventure Tours. Ia dapat dihubungi di saluran berikut:

Mobile: 087747198933

Email : acehexplorer@yahoo.com

Facebook: jelajah Aceh

Twitter: @acehexplorer





Sumber: ACW 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...